
Polisi Telusuri Peran Keluarga dalam Kasus Ledakan SMAN 72
koranindonesia.id – Polisi terus mengembangkan penyelidikan kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta. Kasus ini melibatkan anak berkonflik dengan hukum (ABH) sebagai pelaku utama.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, penyidik telah memeriksa ayah dari ABH tersebut pada Selasa, 11 November 2025. Pemeriksaan berlangsung di kantor kepolisian dan menjadi bagian penting dalam pengumpulan keterangan terkait kasus ledakan.
“Sudah, dua hari lalu,” ujar Budi Hermanto pada Kamis, 13 November 2025.
“Baca Juga: Ledakan Mobil di New Delhi Tewaskan 8 Orang dan Lukai Puluhan“
Budi menjelaskan bahwa proses penyelidikan masih berjalan dan akan terus berkembang. Ia belum mengungkap isi pemeriksaan terhadap ayah pelaku karena penyidik masih menganalisis seluruh data yang diperoleh.
Selain itu, penyidik juga memeriksa banyak saksi lain yang berada di lokasi kejadian. Sebagian besar saksi berasal dari kalangan pelajar SMAN 72 Jakarta.
“Hari ini yang diminta keterangan adalah saksi anak sebanyak 46 orang,” kata Budi.
Para penyidik berupaya mengumpulkan keterangan selengkap mungkin untuk memastikan kronologi kejadian. Dengan begitu, kepolisian bisa menentukan peran setiap pihak dalam insiden ledakan tersebut.
Penyidik juga bekerja sama dengan Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) untuk meneliti kondisi para korban. Tim Apsifor membantu proses penyitaan barang bukti yang melekat pada tubuh korban di rumah sakit.
“Tim menyita barang bukti dari tubuh korban di RSIJ. Serpihan logam dan paku sudah dikumpulkan oleh pihak rumah sakit,” ujar Budi.
Barang bukti tersebut kemudian diserahkan ke laboratorium forensik untuk diperiksa lebih lanjut. Hasil pemeriksaan akan membantu penyidik menentukan jenis bahan peledak yang digunakan pelaku.
Peristiwa ledakan terjadi di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat, 7 November 2025. Saat kejadian, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di sekolah tersebut.
Ledakan mengakibatkan kepanikan besar di lingkungan sekolah. Sebanyak 96 orang mengalami luka-luka, sebagian besar merupakan siswa SMAN 72. Beruntung, tidak ada korban meninggal dunia dalam peristiwa itu.
Tim medis segera mengevakuasi para korban ke rumah sakit terdekat. Pihak sekolah juga menutup seluruh aktivitas belajar sementara waktu untuk mendukung penyelidikan polisi.
Dari hasil penyelidikan, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menemukan fakta mengejutkan. Terduga pelaku membawa tujuh bom rakitan ke lingkungan sekolah. Empat bom meledak di dua lokasi berbeda, sedangkan tiga bom lainnya belum sempat digunakan.
Polisi berhasil mengamankan tiga bom rakitan tersebut dan menjadikannya barang bukti. Tim penjinak bom kemudian mensterilkan seluruh area sekolah untuk memastikan tidak ada ancaman lanjutan.
Penyidik menduga pelaku telah merencanakan aksi ini dengan cukup matang. Namun, motif pelaku masih dalam penyelidikan. Polisi kini memeriksa data komunikasi dan hubungan sosial pelaku untuk mencari sumber ide pembuatan bom tersebut.
Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk meningkatkan pengawasan di sekolah. Langkah ini bertujuan mencegah peristiwa serupa terjadi di masa depan.
Pihak kepolisian juga mengajak masyarakat untuk memperhatikan perilaku anak-anak di lingkungan sekitar. Setiap perubahan perilaku yang mencurigakan perlu segera dilaporkan kepada pihak berwenang.
“Kami ingin memastikan sekolah menjadi tempat yang aman bagi anak-anak,” tegas Budi Hermanto.
Kesimpulan: Polisi & Kasus Ledakan SMAN 72
Kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta memperlihatkan pentingnya pengawasan bersama antara keluarga, sekolah, dan aparat. Polisi terus mengembangkan penyelidikan dengan dukungan forensik, psikologi, dan kerja sama lintas lembaga agar kebenaran kasus ini segera terungkap sepenuhnya.
“Baca Juga: BPOM Bongkar Gudang Obat Ilegal di Jakarta Barat“