Plagiarisme dan Implementasi Nilai-nilai Pancasila

Arus globalisasi dunia membawa kita untuk melihat dunia semakin luas, kemudahan akses mengarungi dunia internet semudah membalikan telapak tangan, akses internet memberikan kemudahan bagi setiap individu untuk berbicara, menjalin komunikasi dan mencari suatu hal  menjadi sangat mudah. Ditambah lagi tidak memerlukan biaya yang mahal dan waktu yang lama.  Namun, kemajuan teknologi yang setiap harinya terus berinovasi dan berubah, bertambah dan berkembang apabila tidak diimbangi dengan dasar etika, dan penegakan hukum, tentunya akan berbahaya bagi generasi muda Indonesia.

Salah satu hal yang marak karena kemajuan teknologi ini adalah bagaimana menghindari plagiarisme. Saat ini masyarakat khususnya mahasiswa banyak terjebak dengan tindakan plagiarisme yaitu mengambil karya orang lain dan tanpa mengutip sumber informasi dan mengakui bahwa itu adalah karya kita.  Plagiarismen sendiri masuk kedalam tindak pidana hak cipta yang tegasnya sudah diatur dalam UU hak cipta. Plagiarisme akan menghasilkan keuntungan hanya pada dirinya sendiri, menyalahgunakan kewenangan demi keuntungan materi dan ekonomi dirinya sendiri.

Atas permasalahan plagiarisme yang ada di Indonesia, saya melihat bahwa Pancasila yang merupakan dasar negara  menjadi pedoman bagi kita untuk mencegah generasi muda terjerat dalam plagiarisme.  Kita perlu melihat dan berkaca pada empat pilar kebangsaan agar menyelamatkan generasi kita dari ancaman plagiarisme, keempat pilar tersebut adalah Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.  Keempat pilar tersebut menjadi dasar kesatuan Indonesia, menumbuhkan jiwa nasionalisme dengan memperhatikan etika. Apabila etika telah terbentuk maka ada rasa malu dari individu yang melakukan plagiarisme atau pembajakan.

Selain itu pula, penanaman jiwa dan nilai-nilai pancasila penting untuk diterapkan sejak dini pada seluruh  pemuda  Indonesia agar menjadi generasi kreatif dan inovatif, selain itu lembaga formal seperti sekolah dan universitas harus memberi ancaman bagi yang melakukan plagiarisme atau pelanggaran hak cipta.

Salah satunya yaitu upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar mahasiswa dapat secara efektif mengembangkan potensi dirinya, mencari inovasi, berkembang, dan mampu menyalurkan potensinya.

Setiap generasi muda perlu ditanam berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak positif dan malu untuk melanggar hak cipta sehingga dapat membantu mereka untuk membuat suatu ide baru yang dapat dipertanggungjawabkan.

Nilai-nilai Pancasila

Terkait dengan etika kita bisa lihat sila pertama pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.  Agama telah mengatur moral dan kepribadian individu untuk mengetahui mana perbuatan yang benar dan mana perbuatan yang salah, tindakan plagiarisme merupakan tindakan negatif dimana kejahatan ini tentunya berakibat dosa jika dilakukan. Kejahatan ini tidak sesuai dengan nilai – nilai kebaikan dan moral yang diajarkan agama. Apabila seseorang memegang teguh ajaran agamanya, ini dapat membantu mencegah agar tidak dilakukan perbuatan yang merugikan ini.

Selanjutnya pada sila kemanusiaan yang adil dan beradab, kemanusiaan mengajarkan kita untuk memanusiakan manusia, apabila individu berkaca pada sila kedua ini makan akan mengembangkan sikap menghormati satu sama lain, mencegah perselisihan dan tidak semena-mena terhadap orang lain sehingga tidak ada lagi istilah pembajakan, plagiarisme dan segala tindakan yang menentang hak cipta setiap individu.

Sila ketiga mengajarkan kita mengenai persatuan Indonesia, pancasila mengajarkan pentingnya untuk mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi sendiri demi terjalinnya harmonisasi, pada kasus plagiarisme, kepentingan bersama hendaknya didahulukan daripada ingin menghasilkan tulisan, karya, suatu inovasi untuk mendapatkan penghargaan terhadap diri sendiri, namun melihat dan mencontek hasil karya orang lain, akibatnya proses pembuatan karyanya penuh kecurangan dan tidak original dari pemikiran individu tersebut.

Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaaan dalam permusyawaratan perwakilan mengajarkan kita bahwa setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama sehingga setiap individu wajib menghargai hak dan kewajiban orang lain.

Sila terakhir yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengajarkan bahwa apabila kita melakukan tindakan negatif seperti plagiarisme maka tindakan tersebut tidak adil dan tidak sesuai dengan sila kelima bagi orang yang dikutip atau ditiru hasil karyanya.

Oleh karena itu, tugas bagi setiap individu untuk aktif menjadi diri yang kreatif, berinovatif, bertanggung jawab, jujur, dan mmapu berfikir ide baru sehingga Indonesia mampu lebih maju dan mengembangkan potensi yang dimiliki, nilai-nilai moral dari pancasila serta penjelasan penting dari pancasila harus dipahami dan dimengerti oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai cerminan Negara yang mampu berdiri tegak, menciptakan ide baru tanpa adanya plagiarisme.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.