Banner sumsel

Perbaiki Kualitas Demokrasi, ICMI Desak Pemilu 2024 Gunakan E-Voting

JAKARTA, koranindonesia.id – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mendesak, agar penyelenggaraan Pemilu 2024 menggunakan e-voting. Desakan ini disampaikan setelah mengevaluasi jalannya Pemilu 2019.

Demikian dikatakan Ketua Departemen Komunikasi ICMI, Andi Irman. Menurutnya, ada tiga alasan yang mendasari desakan tersebut. Pertama kontroversi hitung cepat, dan lamanya penghitungan manual berjenjang yang dilakukan oleh KPU. Efek negatifnya, terjadi banyak pertentangan, baik di kalangan elite maupun akar rumput. “Pertengkaran nasional ini melemahkan persatuan Indonesia. Bila menggunakan e-voting, hasil pemilu segera diketahui sesaat setelah pemungutan suara telah dilakukan,” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/4/2019).

Dilanjutkannya, alasan kedua adalah soal kompleks dan rumitnya mekanisme pemilu di Indonesia saat ini. Tenaga manusia yang menjadi penyelenggara pemilu terkadang, tak mampu memenuhi tuntutan masyarakat. “Banyak penyelenggara pemilu sakit, bahkan gugur dalam menjalankan tugasnya. Dengan e-voting, kerumitan-kerumitan tersebut bisa diminimalisir,” terangnya.

Ditambah Andi Irman pula, alasan terakhir adalah, kian pesatnya kemajuan di bidang teknologi informasi. Saat ini, teknologi kian mempermudah masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas. Dari sisi ekonomi misalnya, sambung Andi, penggunaan teknologi informasi di berbagai sektor sudah lazim, misalnya di sektor keuangan dan perbankan

Ditambah lagi infrastruktur IT di Indonesia juga makin baik, seiring rampungnya proyek Palapa Ring, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Akses internet makin mudah dan cepat. Dalam konteks politik, teknologi bisa menjadi cara memperkuat dan memperbaiki kualitas demokrasi.  “Sudah saatnya penerapan teknologi Indonesia merambah dunia politik sehingga kepastian politik dapat terwujud,” paparnya pula.

Masih menurut Andi, untuk menuju penggunaan e-voting pada Pemilu 2024, memang dibutuhkan beberapa tahapan. Diantaranya melakukan revisi undang-undang pemilu, persiapan infrastruktur teknologi informasi, dan yang lebih penting adalah sosialisasi penerapannya. ICMI menyarankan untuk mengkaji, uji coba, dan menerapkan secara bertahap hingga e-voting benar-benar bisa dilaksanakan pada 2024. “Persoalan utama e-voting adalah kepercayaan pada sistem. Untuk itu harus bertahap dan diuji terus menerus. Indonesia harus menunjukkan pada dunia mengenai kemajuan teknologi Indonesia, dengan cara menerapkan e-voting,” pungkasnya.

Sebagai informasi, sejumlah negara-negara sudah mengimplementasikan e-voting. Misalnya Brazil dan India.

(erw)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.