Banner sumsel

Perairan di Sumsel Masih Rawan Perdagangan Ilegal

PALEMBANG, koranindonesia.id – Perdagangan ilegal masih marak terjadi di wilayah perairan Sumatra Selatan (Sumsel) dan Jambi.

Terbukti, sejak awal tahun Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Sumatera Bagian Timur (Sumbagtim) mencatat telah melakukan 495 kali penindakan dengan potensi kerugian negara mencapai Rp14,88 miliar.

“Penindakan yang dilakukan ini terkait impor dan cukai ilegal, termasuk juga penyelundupan narkotika,” ungkap Kepala Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Sumbagtim, M Aflah Farobi, Rabu (10/10/2018).

Kepala Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Sumbagtim M Aflah Farobi

Dijelaskannya, impor dan cukai ilegal ini didominasi dari cukai rokok, tembakau iris, dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA) dengan nilai Rp11,14 miliar dan kemudian barang kiriman penumpang serta impor umum senilai Rp3,97 miliar.

“Sedangkan untuk narkoba, kami berhasil menggagalkan penyelundupan sabu-sabu seberat 3.498 gram dan 5.000 butir pil ekstasi di wilayah Sumbagtim,” ujarnya.

Ia mengaku daerah yang paling rawan terjadinya perdagangan ilegal ini yaitu di perairan Sungsang, Banyuasin, Sumsel serta di Kuala Tungkal, Jambi. Hal ini dikarenakan akses kedua perairan masih terbatas ditambah lagi minimnya petugas penjagaan diperbatasan tersebut sehingga sulit untuk memantau praktik peredaran cukai dan impor ilegal di kedua daerah itu.

“Kami bisa melakukan tindakan saat masyarakat setempat memberikan laporannya. Karena itu, kami harap masyarakat aktif dalam memberikan laporan jika ada yang mencurigakan,” tukasnya.

(ram)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.