
Pemprov DKI Siap Lanjutkan Modifikasi Cuaca Antisipasi Banjir
koranindonesia.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengakhiri Operasi Modifikasi Cuaca hari ini, Selasa, 27 Januari 2026.
Namun demikian, pemerintah siap melanjutkan program tersebut jika cuaca ekstrem masih terjadi.
Kondisi cuaca menjadi faktor utama dalam menentukan kelanjutan Operasi Modifikasi Cuaca.
Pemerintah memprioritaskan pencegahan banjir akibat curah hujan tinggi.
“Baca Juga: Serangan Bersenjata di Lapangan Bola Meksiko, 11 Tewas“
Pramono menjelaskan bahwa pemerintah mengikuti prediksi cuaca dari BMKG.
BMKG memperkirakan potensi hujan tinggi berlangsung hingga 1 Februari 2026.
Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan langkah lanjutan untuk menghadapi kondisi tersebut.
Operasi Modifikasi Cuaca tetap menjadi opsi jika hujan deras terus muncul.
Pramono menyampaikan pernyataan tersebut saat ditemui di Jakarta Utara.
Ia menegaskan bahwa keputusan selalu menyesuaikan perkembangan cuaca terbaru.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran Operasi Modifikasi Cuaca selama satu bulan penuh.
Anggaran tersebut memberi fleksibilitas dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Selain itu, pemerintah dapat menjalankan OMC kapan saja jika risiko banjir meningkat.
Pemerintah dan DPRD DKI Jakarta menyepakati alokasi anggaran tersebut sebelumnya.
Dengan demikian, pemerintah tidak terkendala pendanaan saat kondisi darurat muncul.
Langkah ini bertujuan melindungi warga dari dampak hujan berkepanjangan.
Pramono menegaskan bahwa pemerintah ingin mencegah banjir besar terulang kembali.
Banjir sebelumnya telah memberi dampak besar bagi masyarakat Jakarta.
Karena itu, pemerintah mengambil langkah cepat dan terukur.
Pemerintah menggabungkan Operasi Modifikasi Cuaca dengan program jangka menengah.
Langkah ini diharapkan mengurangi risiko genangan dan kerusakan lingkungan.
Pemerintah menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama.
Selain OMC, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan normalisasi tiga sungai utama.
Program ini bertujuan meningkatkan daya tampung air hujan.
Tiga sungai tersebut meliputi Kali Cakung Lama, Kali Krukut, dan Kali Ciliwung.
Normalisasi sungai diharapkan membantu pengendalian banjir secara berkelanjutan.
Khusus Kali Cakung Lama, pemerintah menargetkan penyelesaian pada akhir 2027.
Proyek ini membutuhkan waktu dan perencanaan matang.
Pramono mengakui bahwa proyek normalisasi membutuhkan biaya besar.
Namun, ia belum menyampaikan angka pasti untuk keseluruhan proyek.
Pemerintah akan menyesuaikan anggaran dengan kebutuhan di lapangan.
Selain itu, pemerintah memastikan proyek berjalan sesuai target waktu.
Dengan kombinasi OMC dan normalisasi sungai, pemerintah berharap risiko banjir berkurang.
Langkah ini diharapkan memberi perlindungan jangka pendek dan jangka panjang bagi Jakarta.
“Baca Juga: Ahok Ngaku Emosi soal Pencopotan Direksi Pertamina“