Banner sumsel

Pemilu Serentak 2019 Banyak Warga Enggan jadi Petugas KPPS, Ini Sebabnya

BATURAJA,koranindonesia.id – Pada pelaksanaan Pemilu Serentak 2019, diperkirakan banyak warga di Baturaja, OKU, Sumatra Selatan (Sumsel), yang kurang berminat menjadi petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), yang bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Kekhawatiran itu disampaikan warga, berkaitan dengan dinilai kecilnya honorer yang diterima petugas KKPS, jika dibandingkan dengan beratnya tugas yang diemban.

“Pengalaman Pemilu 2014 lalu, petugas KKPS-nya bekerja selama 18 jam. Sementara honor yang mereka terima hanya sekitar Rp450.000. Jadi dikhawatirkan banyak warga yang enggan jadi petugas KPPS,” kata Fahrul, warga Desa Pengaringan, Kecamatan Semidang Aji.

Beda halnya dengan pelaksanaan Pilkada, baik pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) ataupun Pemilihan  Bupati (Pilbup). Dimana menurut dia, tugas KPPS tergolong lebih ringan lantaran tak banyak kotak suara yang mesti diawasi.

“Nah, kalau Pemilu nanti ini runyam, ada Pileg dan Pilpres disitu. Artinya bakal ada lima kotak. Untuk DPRD kabupaten/kota, Provinsi, DPR dan DPD RI serta Presiden/Wakil Presiden. Jadi jangan main-main. Paling tidak, tambahilah honor petugas KPPS. Jangan disamakan dengan Pilkada,” imbuh dia.

Berbeda dengan pendapat Hamka, seorang Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Seleman Kecamatan Semidang Aji.

Dia meyakini akan tetap ada warga yang mau mejadi petugas KPPS pada saatnya nanti. Tapi sebatas mau saja, entah tahu atau tidak, ini juga patut jadi pertanyaan.

“Yang mau (jadi KPPS) masih ada sih sebetulnya. Cuma yang tahu dan mengerti, mungkin tak banyak,” pungkasnya.

Sementara itu terpisah, Ketua KPU Kabupaten OKU Naning Wijaya menyatakan, bahwa anggaran untuk honor KPPS sudah masuk dalam RKA 2019. Hanya saja nominalnya belum tahu.

“Ya mudah-mudahan saja ada kenaikan. Tapi kami tidak menjamin. Kita tunggu saja nanti,” ucap Naning.

(tin)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.