Banner Pemprov Agustus

Pemerintah Diminta Perkuat Pendekatan ‘Countercyclical’

 

JAKARTA, koranindonesia.id – Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Febrio Nathan Kacaribu, mengatakan pemerintah relatif siap menghadapi potensi goncangan ekonomi akibat ketidakpastian global. Beberapa indikator ekonomi cukup aman seperti angka defisit yang relatif rendah, cadangan devisa yang stabil, nilai tukar rupiah yang relative stabil hingga pengelolaan utang yang cukup prudent.

“Kita juga menikmati berkah komoditas yang memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara,” katanya dalam Diskusi Fraksi PKB Bertajuk “Mampukah Arsitektur APBN 2023 Menghadapi Gelapnya Ekonomi Dunia?” di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (22/8/2022) kemarin.

Hadir juga dalam diskusi yang dibuka oleh Ketua Fraksi PKB di DPR RI, Cucun Syamsurijal, itu Direktur Eksekutif Indef DR Tauhid Ahmad, dan Pengamat Ekonomi Faisal H Basri.

Juga tampak anggota DPR Fraksi PKB seperti Fathan Subchi, Nasim Khan, Ela Siti Maryamah, dan Ratna Juwita.  Selain itu hadir juga beberapa anggota Fraksi lain seperti Ketua Fraksi PPP Amir Uskara  dan para pemerhati isu ekonomi lainnya.

Sementara pengamat Ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri, menilai perekonomian Indonesia masih cukup riskan dalam menghadapi potensi guncangan ekonomi akibat ketidakpastian global.

Menurutnya besaran APBN 2023 yang mencapai hampir 3.000 triliun bukanlah indikator capaian prestasi. “Apalagi jika dilihat dari alokasi anggaran yang didominasi pengeluaran untuk membayar beban biaya bunga utang yang harus ditanggung oleh pemerintah,” ujarnya.

Faisal mengatakan dalam postur APBN 2023 belanja modal hanya ada di urutan keempat. Sedangkan yang menduduki posisi kedua dan ketiga adalah belanja barang serta belanja pegawai. “Situasi ini menunjukkan jika performa ekonomi kita tidak bagus-bagus amat. Bahkan performa ekonomi di Indonesia relative buruk. Hanya berada di urutan 122 di dunia,” katanya.

Hilirasasi yang dibanggakan pemerintah, kata Faisal, hanya memberi nilai tambah kepada China. Dia mencontohkan nikel Indonesia hanya dihargai US30 dolar oleh China, padahal di dalam negeri China harus membelinya sebesar US80 dolar.

“Selain angka investasi terus menurun padahal sudah Menteri Investasi ada Menko Investasi tetapi tidak memberikan kontribusi signifikan. Kalo invenstasi membaik kenapa pendapatan pajak kita tidak naik. Tax ratio kita termasuk buruk dibandingkan dengan negara lain,” katanya.

Sementara Tauhid Ahmad mengatakan bom komoditas yang dinikmati tahun ini tahun depan berpotensi menurun. Situasi ini harus diantisipasi karena memberikan ancaman nyata terhadap pendapatan negara. “Tahun depan inflansi menurun karena permintaan menurun juga menurun. Situasi ini berbahaya bagi APBN kita sehingga harus diantisipasi,” katanya.

Saat membuka diskusi Cucun menegaskan, Ketidakpastian situasi global memicu kekhawatiran banyak kalangan. Pemerintah pun diminta bersiap menghadapi berbagai potensi guncangan ekonomi dengan menguatkan pendekatan countercyclical yang berorientasi pada stabilisasi ekonomi.

“Perekonomian Indonesia di tahun 2023 masih menghadapi tantangan tingginya ketidakpastian dan peningkatan risiko global. Oleh karena itu perlu mekanisme fiskal yang tepat sehingga ketika terjadi goncangan ekonomi kita siap. Pendekatan countercyclical kami kira tepat karena berorientasi pada upaya untuk menstabilisasi iklim usaha yang ada,” ujar Cucun.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.