Banner sumsel

Pembelajaran dari Gempa Sulawesi Tengah

JAKARTA,koranindonesia.id–Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengelar Seminar Pembelajaran Pascagempa M 7,4 untuk Pembangunan Kembali Sulawesi Tengah ke Depan. Seminar diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari perwakilan kementerian/badan/lembaga pemerintah, organisasi masyarakat, perguruan tinggi dan awak media ini berlangsung di Lantai 15 Graha BNPB di bilangan Jakarta Timur, Rabu (21/11/2018).

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB.  B.Wisnu Widjaya mengatakan, seminar ini bertujuan untuk mengumpulkan masukan positif terkait pembelajaran, kesiapsiagaan dan perencanaan pembangunan Sulteng pascagempa.

Gempa magnitudo 7,4 yang terjadi di Sulteng disusul tsunami, likuefaksi dan longsor pada 20 September 2018 telah berdampak secara luas bagi daerah setempat. “Kerugian akibat bencana gempabumi, tsunami dan likuefaksi di Sulteng mencapai 10 triliun dengan data korban meninggal dunia 2.100 orang dan ribuan warga lainnya dinyatakan hilang,” ujar Wisnu seperti dilansir kemenag.go.id.

Ia menambahkan, likuefaksi yang memporakporandakan sejumlah daerah di Sulteng pada 28 September 2018 merupakan likuefaksi terbesar sepanjang sejarah dunia. “Terdapat sekitar 3.900 rumah rusak berat akibat likuefaksi di Palu dan sekitarnya. Kini Sulteng juga menjadi laboratorium likuefaksi di dunia terutama pascabencana,” kata Wisnu.

“Jangan sampai momentum gempa bumi Lombok dan Palu kita lupakan. Kita tetap harus siaga bencana. Karena sifat dari bencana itu memiliki ketidakpastian yang sangat tinggi,” sambungnya.

Menurut Wisnu proses rehabilitasi dan rekontruksi di Sulteng dengan prinsip build back better and safer perlu mendapat perhatian 8khusus bagi pemerintah pusat dan daerah.

“Pasalnya realitas karateristik geologi di wilayah Provinsi Sulteng dilalui Sesar Palu-Koro dan danau purba menjadi landasan dalam perencanaan pembangunan ke depan,” tandas pria lulusan S1 Geologi UGM 1988 dan S2 Engineering Geology Universitas Of Leads, England,UK tahun 1994 ini.

Sementara itu Peneliti LIPI, Mudrik Rahmawan Daryano dalam kesempatan tersebut memaparkan potret ancaman geologi Sulteng dari sisi akurasi penelitian geologi serta bagaimana gempa bumi terjadi secara teoritis.

Menurutnya gempa bumi ada siklusnya. Lewat siklus inilah para peneliti bisa mengetahui kapan gempa bumi tersebut berulang tahun. Karateristik gempa di berbagai daerah juga berbeda beda. Seperti gempa di Sumbar dengan Sulteng berbeda.

“Di Sulteng pernah terjadi gempa pada tahun 1907, 1909, 2012 dan 2018,” kata Mudrik.

Ia menjelaskan, gempa bumi di Palu, Sigi, Donggala dan daerah sekitar disebabkan terjadinya pergeseran Segmen Soluki-Segmen Palu yang merupakan bagian Sesar Palukoro.

“Total panjang retakan mencapai 170 Km. Gempabumi di Sulteng memiliki karateristik didahului oleh gempa bumi di Danau Lindu pada tahun 1907 dan 2012,” ujarnya.

“Hingga kini masih ada jumlah tenaga tektonik yang belum lepas di Segmen Salukolo yaitu sekitar 150 cm (Mw7.0). Pembangunan Palu Baru harus berdasarkan kondisi ancaman gempabumi yang ada,” lanjut Mudrik.

Seminar Pembelajaran Pascagempa M 7.4 untuk pembangunan kembali Sulawesi Tengah juga diisi dengan dialog interakti yang menghadirkan narasumber yaitu Suprayoga Hadi, Perencana Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Agraria dan Tata Ruang dan BNPB. (ard/ril)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.