Banner sumsel

PDAM Tirta Lematang Tak Mampu Benahi Kerusakan

LAHAT, koranindonesia.id – Tak kurang 3.272 meter kubik air bersih milik PDAM Tirta Lematang Lahat,  setiap harinya terbuang sia sia.

Kondisi tersebut merupakan imbas dari banyaknya kebocoran pada pipanisasi PDAM yang memang sudah uzur.  Disisi lain,  ketiadaaan anggaran membuat PDAM Lahat, tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan pembenahan kerusakan, sebatas tambal sulam kebocoran saja yang mampu dilakukan.

Kondisi tersebut diakui Kepala PDAM Lahat Hermidi. Menurutnya, setiap hari PDAM Lahat,  menyuplai air kepada pelanggan sebanyak 6.552 liter kubik per hari.  Namun, dari angka tersebut sebanya 3.272 meter kubik air telah terbuang sia sia.

Kendati demikian,  kebocoran tersebut diyakini Hermidi, tidak kan memengaruhi suplai air ke pelanggan PDAM Tirta Lematang, yang menurut standar nasional mendapatkan suplai air bersih, maksimal 800 liter per pelanggan setiap harinya.

“Kenapa kita katakan tidak pengaruh, karena dari  6.552 liter tersebut seyogyanya untuk melayani  8.190 pelanggan.  Sementara PDAM Tirta Lematang,  hanya memiliki 4.100 pelanggan air bersih.  Kuota produksi sebanyak itu untuk menutupi kebocoran tersebut sehingga tidak berimbas ke pelanggan. Hanya saja ongkos produksi yang harus dibayar PDAM memang menjadi lebih mahal,” papar Hermidi,  dibincangi koranindonesia.id, Selasa (2/10/2018).

Ditambahkan Hermidi,  banyaknya pipa bocor dan harus diremajakan tersebut merupakan beban tersendiri bagi PDAM untuk memaksimalkan pelayanan.  Terlebih, PDAM Tirta Lematang sendiri, tidak memiliki anggaran yang cukup jika harus melakukan pembenahan termasuk memperbaiki saringan pipa induk tiga di Desa Karang Anya, yang diperkirakan menelan dana hingga mencapai miliaran rupiah.

Kendati demikian, sejak menjabat 2017 yang lalu masih menurut Hermidi, banyak pembenahan yang telah ia lakukan, baik dari hasil produksi yang meningkat dari 4.619 kubik per hari menjadi 6.879 kubik per hari.

Sementara, tingkat kebocoran yang dahulunya mencapai 53% kini tersisa 35% saja.  Begitu juga dengan kualitas air.

“Saat ini, yang bisa kita lakukan sebatas tambal sulam pada bagian yang bocor dan memutus sambungan ilegal.  Kita tidak ada anggaran untuk melakukan pembenahan. Dalam setahun kita baru bisa mendapatkan pemasukan sebesar Rp664 juta, dan itu hanya cukup untuk menutupi anggaran operasional dan gaji karyawan saja,” sebutnya pula.

Namun demikian dikatakan Hermidi,  pihaknya sudah berupaya untuk mengajukan usulan baik ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Selatan (Sumsel) maupun pemerintah pusat, untuk mendapatkan bantuan agar dapat melakukan perbaikan sejumlah unit yang mengalami kerusakan tersebut.

Selain itu, untuk melakukan pembenahan secara internal, pihaknya juga terus berupaya untuk mendisiplinkan pegawai, berupa peningkatan kinerja hingga peningkatan gaji. Tentunya, dengan harapan akan berimbas kepada pelayanan kepada masyarakat.

Untuk menekan kebocoran anggaran, pihaknya juga saat ini tidak lagi menggunakan transaksi cash, baik untuk gaji pegawai maupun pembayaran retribusi pelanggaran air bersih. Saat ini pihaknya beralih ke sistem pembayaran online.

“Sejauh ini, telah terjadi perubahan perbaikan di tubuh PDAM Tirta Lematang, baik dari sektor pelayanan maupun internal PDAM itu sendiri, ” tandasnya.

(sfr)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.