
Pasukan Elit AS Bunuh Warga Sipil Korut dalam Operasi Rahasia, Perintah Trump
koranindonesia.id – Pasukan Elit AS: Sebuah laporan The New York Times pada Sabtu, 6 September 2025, mengungkap dugaan operasi rahasia Amerika Serikat di Korea Utara. Menurut laporan itu, Presiden AS saat itu, Donald Trump, disebut mengirim pasukan elit Angkatan Laut SEAL Team Six pada 2019.
“Baca Juga: Dewan Pers Dukung Uji Materi Pasal 8 UU Pers di MK“
Informasi yang dihimpun media menyebut pasukan komando berangkat dari kapal selam dengan membawa kapal mini. Misi tersebut bertujuan memasang perangkat penyadap komunikasi pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Data intelijen itu diduga ingin digunakan sebagai bahan tawar-menawar dalam negosiasi nuklir.
Di tengah pelaksanaan misi, pasukan SEAL dilaporkan melihat perahu yang mendekat di perairan Korea Utara. Mereka menduga penumpang perahu itu adalah pasukan musuh. Para anggota SEAL kemudian melepaskan tembakan. Menurut sumber yang mengetahui operasi, insiden itu menewaskan dua hingga tiga orang yang ternyata warga sipil tak bersenjata.
Sumber tersebut juga menyebut tim komando mengambil jasad para korban, lalu menenggelamkannya sebelum mundur dari lokasi misi.
Gangguan komunikasi memperumit jalannya operasi. Komandan di kapal selam pendukung gagal menjaga kontak radio dengan tim di lapangan. Selain itu, drone tidak tersedia, dan citra satelit yang digunakan sudah ketinggalan waktu. Kondisi ini membuat tim tidak mendapat informasi situasi terkini secara akurat.
Laporan tinjauan militer kemudian menyebut insiden penembakan warga sipil sebagai “rangkaian kejadian yang tidak terduga.” Namun, hasil tinjauan tersebut belum diumumkan secara resmi kepada publik.
New York Times menulis bahwa operasi ini belum pernah dilaporkan secara resmi kepada Kongres. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai kurangnya pengawasan terhadap operasi militer rahasia.
Beberapa pihak menilai, jika benar terjadi, operasi tersebut bisa dianggap melanggar hukum internasional. Media internasional seperti RT juga mengutip laporan tersebut.
Pada tahun 2019, Trump sedang menjabat sebagai presiden dan berupaya mencapai kesepakatan dengan Kim Jong-un terkait program nuklir Korea Utara. Namun, perundingan tersebut gagal membuahkan hasil. Meski begitu, Washington memperkirakan Korea Utara tetap melanjutkan pengembangan senjata nuklir dengan perkiraan memiliki sekitar 50 hulu ledak.
Laporan tentang misi rahasia AS di Korea Utara masih menimbulkan banyak tanda tanya. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang. Publik menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai operasi tersebut serta dampaknya terhadap hubungan diplomatik kedua negara.
“Baca Juga: Jasad Pria Misterius Ditemukan di Kalimalang, Tanpa Luka“