Bhintan Shalawat

Pasien Gangguan Jiwa Edarkan Psikotropika, Ditangkap Bersama Komplotannya

KLATEN, koranindonesia.id – Seorang pasien yang mengalami gangguan jiwa, Riska Rudi Khristanto (41) dicokok oleh Satnarkoba Polres Klaten. Warga Desa Karang, Kecamatan Delanggum, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini ditangkap, lantaran menyalahgunakan resep dokter untuk mengedarkan pil penenang jenis psikotropika.

Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi mengatakan, selain mengedarkan obat golongan keras dengan resep dokter, tersangka juga kedapatan menggunakan sabu. Tersangka tertangkap tangan mengambil paket sabu di dekat tempat sampah di Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten.

“Tersangka ini pasien gangguan jiwa. Dia bisa mendapatkan obat penenang dan menjualnya. Selain itu, dia juga pengguna narkotika,” terang Aries, Kamis (28/2/2019).

Sebelum dilakukan penangkapan terhadap tersangka, kata Aries, polisi menangkap Gimbal di rumahnya. Selain menjual sabu, Gimbal juga membeli psikotropika dari Rudi.

Bersamaan dengan penangkapan Gimbal, polisi juga menangkap pengguna sabu lainnya, Lilik Setyawan (35) warga Wonosari, Klaten. Lilik merupakan teman Gimbal. Dia mengaku baru berkomunikasi dengan seorang narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sragen.

“Dari tiga tersangka itu, barang bukti yang disita, di antaranya 1,68 gram sabu, 38 pil Atarax yang mengandung alprazolam dan satu pil Dolgesik 50. Ketiga tersangka ini memang saling terkait,” ungkap Kapolres.

Sementara itu, Rudi mengaku terpaksa menjual pil berdasarkan resep dokter itu karena tergiur keuntungan yang besar. Saat menjual 10 butir pil, Rudi memperoleh keuntungan Rp100.000.

“Saya menjual pil itu karena aji mumpung. Kebetulan pas bisa membeli pil dengan resep dokter. Kebetulan, ada yang membeli juga,” katanya.

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 112 ayat (1) subsider Pasal 132 ayat (1) UU No. 35/2009 tentang narkotika dan Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4) UU No. 5/1997 tentang Psikotropika. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara dan denda maksimal Rp8 miliar.
(ali)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.