
Pakistan-Afghanistan Sepakat Gencatan Idulfitri
koranindonesia.id – Pakistan dan Afghanistan mengambil langkah penting menjelang Idulfitri. Kedua negara sepakat menghentikan sementara operasi militer.
Keputusan ini bertujuan menciptakan suasana damai selama hari raya. Selain itu, langkah ini memberi ruang bagi stabilitas di kawasan perbatasan.
“Baca Juga: Warga Depok Salat Id Lebih Awal, Ini Faktanya“
Pemerintah Pakistan mengumumkan penghentian operasi mulai 18 Maret 2026. Langkah ini berlaku hingga 23 Maret 2026.
Menteri Informasi Pakistan, Ataullah Tarrar, menyampaikan keputusan ini melalui media sosial. Ia menegaskan bahwa langkah ini dilakukan dengan itikad baik.
Selain itu, Pakistan menyebut keputusan ini sesuai dengan nilai dan norma Islam. Namun, Pakistan tetap memberikan peringatan tegas.
Jika terjadi serangan lintas batas, militer akan langsung merespons. Dengan demikian, situasi tetap berada dalam pengawasan.
Pihak Afghanistan juga menyampaikan pernyataan serupa. Juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid, mengumumkan kesepakatan ini.
Afghanistan menyambut langkah tersebut sebagai upaya meredakan ketegangan. Selain itu, keputusan ini diharapkan mengurangi konflik di perbatasan.
Dengan adanya kesepakatan ini, kedua negara menunjukkan niat untuk menahan diri.
Beberapa negara turut berperan dalam mendorong kesepakatan ini. Turki, Arab Saudi, dan Qatar mengajukan permintaan kepada kedua pihak.
Negara-negara tersebut menginginkan situasi yang lebih kondusif saat Idulfitri. Oleh karena itu, mereka mendorong dialog dan penghentian konflik.
Langkah ini menunjukkan pentingnya peran diplomasi dalam meredakan konflik regional.
Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak akhir Februari. Bentrokan menyebabkan banyak korban jiwa di kedua pihak.
Pakistan melaporkan 13 tentara dan lima warga sipil tewas. Selain itu, satu tentara masih dinyatakan hilang.
Sementara itu, Afghanistan melaporkan korban lebih besar. Sebanyak 13 tentara dan 76 warga sipil dilaporkan tewas.
Selain itu, laporan PBB mencatat 76 kematian warga sipil dan 213 luka-luka. Data tersebut mencakup periode 26 Februari hingga 16 Maret.
Angka ini menunjukkan dampak besar dari konflik yang berlangsung.
Ketegangan semakin meningkat setelah tuduhan serangan udara muncul. Kabul menuduh Pakistan menyerang rumah sakit di ibu kota.
Menurut Kabul, serangan tersebut menewaskan ratusan orang. Namun, Pakistan membantah tuduhan tersebut.
Pakistan menyatakan bahwa mereka menargetkan fasilitas militer. Target tersebut berada di Kabul dan provinsi Nangarhar.
Perbedaan klaim ini memperkeruh hubungan kedua negara.
Pakistan kembali menuduh Afghanistan melindungi kelompok militan. Tuduhan ini sudah lama menjadi sumber konflik.
Namun, Afghanistan membantah tuduhan tersebut secara tegas. Perbedaan pandangan ini terus memicu ketegangan.
Meski demikian, kesepakatan penghentian operasi memberi harapan baru. Kedua negara kini memiliki kesempatan untuk meredakan konflik sementara.
Langkah ini menjadi momen penting untuk menahan eskalasi. Selain itu, masyarakat berharap situasi damai dapat bertahan lebih lama.
“Baca Juga: Hidup Bersih Bantu Jaga Kesehatan Mental dan Tubuh“