Pakar HTN Ini Bicara Soal Peluang Prabowo-Sandi Menang di MK

JAKARTA, koranindonesia.id – Pakar Hukum Tata Negara (HTN) Refly Harun bicara soal gugatan hasil Pilpres 2019 yang dilayangkan kubu pasangan calon 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ke Mahkamah Konstitusi (MK). Refly memaparkan kemungkinan Prabowo-Sandi bisa menang di MK. Ia menilai, gugatan tersebut bisa saja menang di MK.

Hal ini disampaikan Refly saat menjadi narasumber pada acara di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Selasa (28/5/2019). Awalnya, Refly mengungkapkan bersyukur karena pihak BPN Prabowo-Sandi menempuh jalur hukum ke MK. “Soal menang dan kalah itu permasalahan lain. Yang terpenting adalah kita menggeser masalah dari jalan ke ruang sidang,” ungkap dia.

Refly Harun mengatakan, harapannya agar persidangan di MK berjalan lancar dan terbuka sehingga apapun hasilnya bisa diterima kedua pihak. Tak hanya itu, Refly menjelaskan, dua aspek pendekatan mengenai pembuktian data-data kecurangan yang dilaporkan BPN Prabowo-Sandi.

“Dua aspek pendekatan yaitu kuantitatif dan kualitatif. Kalau kuantitatif ini maka BPN harus bisa membuktikan mereka dicurangi atau penggelembungan suara kubu 01 sejumlah separuh 16 juta lebih. Kalau dia bisa mendalilkan seperti itu, maka kita bicara signifikan berdasarkan kuantitatif. Tapi kalau di permohonan aja enggak signifikan, dengan berbagai bukti dan hanya klaim semata maka bergerak kepada kuantitatif,” ungkap Refly.

Menurut Refly, aspek pendekatan kuantitatif juga terdapat dua bagian yakni mengenai TSM (terstruktur, sistematis, dan masif) dan pembuktian kecurangan yang dikomando oleh kubu 01. “Itu penting untuk dikaitkan dengan pemilu jujur. Kalau TSM itu berat membuktikannya karena menyangkut sebaran suara yang besar dan waktu kerja yang sempit,” papar Refly.

Refly menyatakan, BPN Prabowo-Sandi harus meyakinkan hakim MK saat persidangan jika kecurangan itu dikomando. Selain itu, Refly menyatakan telah membaca laporan dugaan kecurangan pemilu di tahun-tahun sebelumnya dan ia mengibaratkan laporan tersebut bak speakernya yang besar tetapi tak ada isinya.
Kendati demikian, Refly menilai kubu Prabowo-Sandi bisa saja menang apabila MK mengubah paradigmanya.

“Kalau MK mau mengubah paradigmanya, satu saja bukti pelanggaran yang dilakukan paslon maka sesungguhnya sudah terjadi pelanggaran pemilu,” jelas Refly Harun.

Kendati demikian, permasalahannya dari sebelum-sebelumnya tak pernah membuktikan sedalam-dalamnya soal ASN yang digerakkan dan ada perintah komandonya. “Pembuktian mengenai hal tersebut sulit, apakah ada perintah komando atau tidak. Terus Polri dan TNI disebut terlibat, bagaimana pula membuktikannya?,” ungkap Refly.

Refly menilai, jika saat persidangan lebih menyasar sebuah bukti pelanggaran saja maka sidangnya bisa terukur. “Saya mendambakan pemilu jujur dan adil. Pokoknya pemilu yang tak becek dengan kecurangan tetapi saya tahu apakah hakim MK menerapkannya untuk pilpres.Satu saja kecurangan dilakukan maka didiskualifikasi karena itu sudah menjadi kejahatan pemilu,” pungkas Refly.
(mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.