Banner Muba 23 – 31 Juli 2021
banner Pemprov Juni

Otak Pembunuhan Mayat Wanita yang Dicor di TPU Kandang Kawat Diringkus

PALEMBANG, koranindonesia.id – Sempat buron selama dua tahun, pelarian Novi alias Acik (60), otak pembunuhan terhadap Apriyanita pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang jasadnya dicor di TPU Kandang Kawat berhasil diringkus aparat kepolisian.

Dia ditangkap anggota Unit I Subdit III Jatanras Polda Sumsel di tempat persembunyiannya di kawasan Karawang, Jawa Barat (Jabar), Kamis (2/9/2021) siang.

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda, Sumsel Kompol Christoper Panjaitan mengatakan tersangka Novi adalah tersangka ketiga yang ditangkap dalam kasus pembunuhan ASN Kementerian PUPR pada tahun 2019 lalu.

“Sebelumnya anggota kira sudah menangkap dua tersangka Yudi Thama dan Ilyas Kurniawan keduanya sudah menjalani hukuman,” bebernya.

Untuk peran tersangka Novi ini selain menjadi otak pembunuhan juga sebagai eksekutor menghabisi nyawa korban Apriyanita bersama tiga pelaku lainnya.

“Dari membunuh korban, tersangka Novi mendapatkan upah sebesar Rp 5 juta dari tersangka Yudi. Korban sebelum dikubur terlebih dahulu dibunuh di dalam mobil Kijang Innova dengan dicekoki obat tetes mata kedalam minuman lalu dijerat lehernya dengan tali. Jasad korban sempat dibiarkan di dalam mobil sebelum dikubur. Para tersangkanya pergi ketempat hiburan malam,” tambahnya.

Sementara itu, tersangka Novi mengakui perbuatannya. Dia mengatakan, selama bersembunyi di Karawang menggunakan nama Bang Toyib dan berjualan es keliling.”Saya mengakui kalau ikut terlibat dalam aksi pembunuh hingga mengubur serta mengecor jenazah korban,” ujarnya, Jumat (3/9).

Dirinya menuturkan, bahwa ia hanya memberi saran untuk menguburkan jenazah korban setelah dibunuh. “Saya menyarankan untuk mengubur korban demi untuk menghilangkan jejak dalam aksi pembunuhan yang didalamnya saya ikut, apalagi kerja saya di kuburan (kandang kawat,red), jadi saya sarankan saja begitu,” ucapnya.

Ia membeberkan kalau ia merupakan paman dari terpidana Mgs Yudi Thama Redianto (41) yang sudah lebih dulu ditangkap dan divonis bersalah berdasarkan putusan hakim.

Nopi mengaku mendapat janji bayaran sebesar Rp 5 juta untuk membantu membunuh korban. Namun uang tersebut baru diterima Rp 1 juta dan sisanya belum diterima lantaran kasus pembunuhan yang mereka lakukan keburu terungkap.

“Saya sangat takut ditangkap jadi saya kabur dan identitas saya sembunyikan dengan menggunakan nama palsu bukan nama asli saya,” pungkasnya. (depe)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.