
Oli Mundur Usai Protes Gen Z Guncang Nepal
koranindonesia.id – Oli Mundur Usai Protes Gen Z: Perdana Menteri Nepal, K. P. Sharma Oli, mengundurkan diri pada Selasa, 9 September 2025. Keputusan ini muncul sehari setelah bentrokan besar menewaskan 19 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya. Protes tersebut dipicu oleh larangan media sosial dan jam malam tanpa batas.
“Baca Juga: Gibran Kunjungi SBY di Cikeas, AHY Ungkap Isi Pertemuan“
Pada Senin, ribuan pengunjuk rasa berusaha menyerbu gedung parlemen di Kathmandu. Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa. Bentrokan berakhir dengan banyak korban jiwa. Saksi mata melaporkan rumah beberapa politisi dibakar, dan beberapa menteri dievakuasi menggunakan helikopter militer.
Oli mengirim surat pengunduran diri kepada Presiden Ramchandra Paudel. Ia menyatakan mundur untuk mencari solusi politik sesuai konstitusi. Presiden menerima pengunduran diri tersebut dan langsung memulai diskusi memilih pemimpin baru. Angkatan Bersenjata Nepal meminta masyarakat menahan diri agar situasi tidak semakin parah.
Dua menteri di kabinet Oli memilih mundur pada Senin malam. Mereka menyatakan alasan moral dan menolak melanjutkan masa jabatan. Oli sendiri baru dilantik pada Juli 2024 untuk masa jabatan keempatnya. Ia menjadi perdana menteri ke-14 sejak Nepal menghapus monarki pada 2008.
Sebelum mundur, Oli menggelar pertemuan dengan semua partai politik. Ia menegaskan bahwa kekerasan tidak menguntungkan siapa pun dan bangsa membutuhkan dialog damai. Oli juga menyampaikan kesedihan atas korban jiwa, meskipun ia menuding pihak tertentu memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi.
Penyelenggara menyebut aksi ini sebagai “demonstrasi Gen Z”. Gerakan ini dipimpin anak muda yang kecewa pada pemerintah. Mereka menuntut pemberantasan korupsi dan peningkatan peluang ekonomi.
Anak muda membanjiri media sosial dengan konten yang menyoroti gaya hidup mewah keluarga pejabat. Pemerintah merespons dengan menutup akses ke beberapa platform. Keputusan itu justru memperbesar kemarahan publik.
Pemerintah Oli memberlakukan larangan media sosial pekan lalu. Alasannya, platform gagal mendaftar ke pemerintah dan kerap digunakan untuk penipuan atau penyebaran informasi salah. Namun, publik menilai langkah itu hanya cara untuk membungkam suara kritis.
Bandara internasional Kathmandu sempat ditutup karena asap dari pembakaran di dekat area penerbangan. Protes juga menyebar ke berbagai kota lain di Nepal. Situasi ini memperdalam ketidakpastian politik dan ekonomi yang sudah lama melanda negara Himalaya tersebut.
Masyarakat Nepal kini menanti kepemimpinan baru. Mereka berharap pemimpin berikut mampu memberantas korupsi dan membuka lapangan kerja. Generasi muda menuntut perubahan nyata, bukan sekadar janji politik tanpa bukti.
“Baca Juga: Legislator Perindo Bantu Benang Tenun untuk Penenun Sikka NTT“