Banner sumsel

Nuraini Harapkan Bantuan Pengobatan Untuk Anaknya

PALEMBANG,koransumatera.com – Setiap orang tua berharap mendapatkan kasih sayang dari anak-anaknya. Keberadaan seorang anak diharapkan dapat menjadi tumpuan orang tua di hari tuanya kelak. Namun hal itu tidak dirasakan Nuraini (67) yang justru malah ketakutan saat harus berdekatan dan tinggal satu atap dengan anaknya M. Agus Salim (27).

Ditemui dikediamannya di Jalan KH. Azhari Kelurahan Kalidoni Kecamatan Sematang Borang,rumah putih sederhana tampak plester depan tersebut sangat tidak terawat dan samgat tidak sehat. Bau menyengat langsung tercium begitu memasuki ruang tamu dan ruang tengah menuju kamar mandi yang banyak berserakan pakaian-pakaian milik Nuraini dan anaknya M.  Agus Salim (27). Nuraini sengaja meletakkan pakaian-pakaian tersebut di kotak-kotak kardus karena tidak adanya lemari tempat menyimpan pakaian sehingga dibiarkan begitu saja.

Selain kotor dan tidak terawat kaca jendela rumah juga sudah tidak ada dan hanya ditutupi dengan kayu bahkan ada yang dibiarkan terbuka begitu saja, di halaman depan rumah dan samping rumah ditumbuhi rumput yang tinggi sehingga kesan tak terawat begitu sangat terlihat.

“Kami hanya tinggal beduo be di sini. Rumah ini juga dipinjamke oleh teman alm suami aku yang kasihan dengan aku dan anak aku karena kami tidak punya rumah,” ungkap Erni sapaan Nuraini).

Di rumah tersebut, Nuraini lebih memilih tidur di ruangan depan, Sedangkan Agus di letakkannya di dalam kamar. Dengan wajah sedih Nuraini menceritakan mengenai kondisi anak keduanya tersebut. Menurutnya sudah tiga tahunan ini Agus mengalami gangguan kejiwaan dengan kerap berteriak dan berkata yang tidak jelas sembari merusak barang-barang yang ada disekitarnya. bahkan dirinya pun kerap tidak luput jadi sasaran amukan  Agus saat berada didekatnya.

“Sudah tiga tahun ini Agus sering kumat, walaupun memang tidak setiap hari. Kalau kumat selalu teriak-teriak mecahke barang atau apo bae yang ado didekat dio,” ujar Nuraini yang akrab di sapa Erni ini.

Janda dengan dua anak ini menuturkan, awalnya Agus seperti pria normal dan tidak pernah menunjukkan prilaku yang tidak wajar. Hanya saja sejak kematian ayahnya, Agus mulai bersentuhan dengan obat-obatan terlarang. “Bahkan menghisab lem aibon sebagai pelarian karena ditinggal ayahnya,” terangnya.

Ia mengaku sangat sedih dengan keadaan buah hatinya. Apalagi anak kedua dari dua bersaudara ini sudah tidak bisa berjalan dengan normal lagi tanpa diketahui penyebab Agus tidak lagi bisa berjalan.

“Desember 2016, memang aku masuke di panti pengobatan non medis di Soak untuk berobat dengan harapan kalu be  bisa sembuh. Tapi Februari 2017 aku bawa balek lagi karena kasian waktu aku lihat kesano kondisinyo sangat menyedihkan dengan badan yang penuh dengan koreng. Disitu juga aku baru tahu kalu Agus sudah idak biso bejalan lagi,” terangnya.

Sejak dibawa pulang itulah, kelakuan Agus semakin tidak bisa dikendalikan. Terkadang kalau penyakitnya sedang kambuh, Agus kerap berteriak dan merusak barang-barang yang ada disekitarnya. Bahkan pernah Agus menjambak rambutnya ketika tidur sembari memukul.

“Dia ini kan memang tidak bisa berjalan, jadi kalau mau jalan sambil ngesot. Aku takut nian kalu dio ni la ngamuk, ini bae kain-kain dio galo yang ngambur-ngamburkenyo. Kaco-kaco jendelo ni dio tulah yang mecahkenyo. Aku dak kuat lagi nak bereskenyo,” imbuh wanita renta ini

Ia pun sangat berharap bantuan dari pemerintah untuk membantu pengobatan Agus. Ia tidak tahu lagi harus meminta kepada siapa lagi. Sedangkan anak pertamanya juga terkadang masih meminta uang kepadanya karena tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Aku minta tolong nian dengan pemerintah, nak dibawak berobat kemano. Kalu nak di bawa ke Rumah Sakit Jiwa aku idak punyo duet untuk bayarnyo,” harap Nuraini dengan mata berkaca kaca.

Perilaku Agus yang mengalami gangguan kejiwaan dan kerap membuat ibunya ketakutan dibenarkan tetangga di depan rumahnya Nia (25). Menurut Nia, Nuraini kerap menjadi sasaran Agus kalau penyakitnya sedang kambuh.

“Malah kalo la kumat, sampe ngungsi ke sini untuk tidur karena takut,” terangnya.

Nia pun berharap ada bantuan dari pemerintah untuk Njraini dan anaknya. Seperti bantuan pengobatan.

“Ada yang bilang penyakit itu tidak bisa sembuh. Kalau bisa di bawa berobat saja, ” katanya.

Reporter : ria

Editor : elan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.