Banner pemprov Sumsel Vaksin
Muba vaksin maret 2021

NU, Muhammadiyah dan MUI Kecam Tuduhan Radikal Terhadap Din Syamsuddin

 

JAKARTA, koraninonesia.id – Tiga Organisasi Massa (Ormas) Islam, yaitu Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam tuduhan radikal terhadap Profesor Din Syamsuddin oleh Gerakan Anti Radikalisme Alumni ITB.

Menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu”ti, tuduhan itu tidak berdasar dan salah alamat. “Saya mengenal dekat Pak Din sebagai seorang yang sangat aktif mendorong moderasi beragama dan kerukunan intern dan antarumat beragama baik di dalam maupun luar negeri,” kata Mu’ti, Jumat (12/2/2021).

“Pak Din adalah tokoh yang menggagas konsep Negara Pancasila Sebagai darul ahdi wa syahadah di PP Muhammadiyah sampai akhirnya menjadi keputusan resmi Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar,” kata Abdul.

Ia melanjutkan, semasa menjadi utusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban, Din memprakarsai pertemuan ulama dunia di Bogor. Pertemuan tersebut melahirkan Bogor Message yang berisi tentang wasathiyah Islam atau Islam yang moderat.

Di UIN Jakarta, Din adalah satu-satunya guru besar Hubungan Internasional. Secara akademik, FISIP UIN sangat memerlukan sosok Din. “Saya tahu persis, di tengah kesibukan di luar kampus, Pak Din masih aktif mengajar, membimbing mahasiswa, dan menguji tesis atau disertasi,” jelas dia.

Sementara Ketua PBNU, Marsudi Syuhud, turut menanggapi soal Din Syamsuddin yang dituduh sebagai tokoh radikal. Marsudi mengaku belum bisa menemukan contoh konkret Din Syamsuddin termasuk seorang yang radikal. “Tuduhan radikalisme terhadap tokoh Din Syamsuddin oleh pihak tertentu sampai detik ini saya belum bisa menemukan contoh konkret yang menggambarkan beliau adalah seorang yang radikal dalam bahasa lain “tathoruf” sebagaimana gambaran pikiran kita ketika diarahkan kepada sebuah kelompok yang “distempel” radikal pada umumnya,” kata Marsudi dalam keterangannya, Jumat (12/2/2021).

“Begitu pula ketika kata “radikal” yang diarahkan kepada beliau, sebagai seorang pemimpin “jam”iyah almutathorifah”, hidung saya belum bisa membau bau itu sampai saat ini. Apakah ini karena hidung saya lagi kena flu sehingga tidak berfungsi dengan baik, atau telinga saya yang “kopoken” sehingga belum bisa mendengarkan statement Pak Din yang masuk kategori radikal,” kata Marsudi.

Oleh karena itu, kata dia, apabila Din banyak melontarkan kritik, itu adalah bagian dari panggilan iman, keilmuan, dan tanggung jawab kebangsaan. Kritik adalah hal yang sangat wajar dalam alam demokrasi dan diperlukan dalam penyelenggaraan negara. “Jadi semua pihak hendaknya tidak antikritik yang konstruktif,” kata dia.

Sedang Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim menyesalkan adanya kelompok yang menuding mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, sebagai bagian dari kelompok radikal.

“Ini adalah tuduhan dan fitnah keji yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kepada seorang tokoh dan pemimpin muslim penting tingkat dunia yang sangat dihormati,” kata Sudarnoto dalam keterangannya, Jumat, (12/2/2021).

Sudarnoto mengatakan Din selama ini telah mempromosikan wasatiyatul Islam atau Islam moderat di berbagai forum dunia. Masyarakat juga bisa melihat bukti dan rekam jejak Din untuk memahami pandangan dan sikapnya terhadap radikalisme dan bagaimana menangani paham tersebut.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.