Muba ramadhan
Banner pemprov Sumsel Vaksin

Nadiem Bilang Pelestarian Aksara Jawa untuk Mempertahankan Budaya

 

JAKARTA, koranindonesia.id – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyatakan, pelestarian aksara Jawa sebagai upaya mutlak menjaga eksistensi budaya Jawa di Tanah Air. Meski saat ini keberadaannya perlahan ditinggalkan.

Nadiem mengatakan, aksara Jawa susah payah bertahan di dunia di mana aksara latin mulai dominan. Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuktikan dominasi tersebut.

Penggunaan aksara latin dapat dilihat di berbagai platform. “Aksara Jawa bersusah payah bertahan di tengah aksara latin yang kita gunakan sehari-hari,” ujar Nadiem dalam Pembukaan Kongres Aksara Jawa yang disiarkan secara daring di YouTube Pemda DIY, Senin (22/3/2021).

Apalagi, lanjut Nadiem, masyarakat Jawa kini cenderung memakai bahasa Indonesia sebagai percakapan sehari-hari. Akhirnya, aksara Jawa jadi kian terabaikan.

Padahal, Nadiem melihat, melestarikan aksara Jawa berarti merawat tubuh kebudayaan Jawa. Serta memicu terciptanya sederet bentuk ekspresi yang akan mampu memperkaya kebudayaan Bangsa Indonesia.

“Pelestarian aksara Jawa harus dipandang sebagai langkah yang mutlak harus dipertahankan untuk menjaga keberlngsungan kebudayaan Jawa,” ucap Nadiem.

Nadiem berujar, keberadaan bahasa Jawa lebih dari sekadar memperkuat budaya bangsa. Namun juga sebagai bagian penting dalam pendidikan budi pekerti sehingga harus dijaga eksistensi penggunaan aksaranya.

“Ke depan, kita harus mendorong kebudayaan Jawa yang semakin inklusif dan mendukung kedudukan aksara Jawa di tengah ekosistem kebahasaan dunia,” tutup Nadiem.

Sementara Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X menjelaskan, salah satu misi diselenggarakannya Kongres Aksara Jawa ini adalah menjaga eksistensi bahasa Jawa. Selain itu meningkatkan minat baca dan tulis bahasa Jawa, paling tidak bagi penuturnya.

“Eksistensi bahasa minimal dipakai sepuluh ribu orang untuk memastikan transmisi ke generasi. Bahasa daerah perlu didorong tetap hidup. Terutama di lingkungan keluarga untuk diwariskan ke setiap penutur,” ujar Sultan.

Ketua Panitia Kongres Aksara Jawa, Setyo Prasojo menambahkan, Kongres Aksara Jawa digelar sampai 26 Maret 2021 mendatang. Agendanya membahas berbagai hal meliputi transliterasi aksara Jawa-latin, tata tulis, digitalisasi, hingga kebijakan penggunaannya di ranah publik.

Keempat hal ini rencananya dibahas dalam sidang komisi yang diikuti 20 peserta luring dan 180 peserta daring. Diikuti pemerintah, ahli dan peserta dari luar Yogyakarta, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Banten, DKI Jakarta, hingga Hong Kong.

Harapannya, kongres ini mampu menjaga eksistensi aksara Jawa. Terlebih, ada lebih dari 200 bahasa di dunia telah punah akibat hilangnya penutur bahasa tersebut berdasarkan data UNESCO.

“Kongres Aksara Jawa ini diharapkan menghasilkan keputusan strategis. Salah satunya pengakuan negara terhadap aksara Jawa dan aksara lain,” tutur Setyo.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.