Banner Pemprov 2020
Banner 23 September

Museum Balaputra Dewa Palembang pamerkan koleksi peninggalan Sriwijaya

Jakarta,oranindonesia.id-Museum Negeri Balaputra Dewa Palembang, Sumatera Selatan, memamerkan sejumlah koleksi benda sejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.

“Benda peninggalan sejarah yang dipamerkan seperti prasasti, artefak, kemudi kapal dan perahu lesung,” kata Kepala Museum Balaputra Dewa Palembang, Chandra Amprayadi di Palembang, Selasa.

Koleksi benda peninggalan sejarah zaman Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam bisa dilihat pengunjung di ruangan pamer II yang disiapkan khusus untuk menyimpan koleksi benda sejarah kedua zaman tersebut.

Sedangkan ruang pamer I, pengunjung museum dapat melihat koleksi peninggalan zaman batu, katanya.

Dia menjelaskan satu koleksi terbaru yang dipamerkan di ruang pamer II yakni kemudi kapal terbuat dari kayu yang telah diteliti pihak balai arkeologi diperkirakan dari kapal tradisi Asia atau peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya yang berkembang pada abad I-XIII Masehi.

“Kemudi kapal tersebut merupakan hibah dari masyarakat pada Agustus 2020. Kemudi kapal yang terbuat dari kayu ulin itu beratnya sekitar empat ton dengan panjang 7,8 meter lebar 50 cm ditemukan di Sungai Musi kawasan Keramasan, Kertapati Palembang pada tahun 2016,” ujarnya.

Dengan adanya hibah barang peninggalan sejarah itu, memperkaya koleksi Museum Balaputra Dewa yang berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya.

Beberapa barang peninggalan sejarah berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya berpusat di Kota Palembang yang sudah ada sebelumnya di museum tersebut seperti artefak kerajinan gerabah, manik-manik, logam benda cor, dan prasasti.

Dalam tiga tahun terakhir pihaknya telah menambah 2.000 koleksi baru yang diperoleh dari hibah masyarakat berbagai daerah di Sumsel dan provinsi lainnya.

Dengan adanya tambahan koleksi peninggalan sejarah tersebut, Museum Balaputra Dewa Palembang memiliki 8.800 potong koleksi mulai dari zaman pra-sejarah, zaman Kerajaan Sriwijaya, zaman Kesultanan Palembang, hingga zaman kolonial Belanda, kata Chandra.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.