Minim Dana, KKI OKU Mampu Sumbang 11 Emas di Kejurda

BATURAJA, koranindonesia.id – Perolehan 11 medali emas yang disabet para atlet Kontingen KKI (Kushin Ryu M Karate Do Indonesia) Polres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan (Sumsel), pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) KKI Sumsel ke X, Festival, dan Open Turnamen Piala Abdul Aziz kedua, di Palembang baru-baru ini, merupakan prestasi tersendiri di tengah pemberangkatan kontingen yang minim dana, bahkan harus patungan orangtua, pelatih, dan pengurus.

Dari 11 medali emas yang diboyong ke Kabupaten OKU tersebut, dua medali emas diantaranya dikumpulkan dari Kejurda yang pertandingannya penuh gengsi. Sementara sembilan emas sisanya, di koleksi dari ajang festival sebelum gelaran Kejurda.

Dua medali emas Kejurda itu salah satunya, diraih atlet yang berstatus pelajar kelas delapan SMPN 1 OKU, bernama Araftyo Malikal Zukhrufi yang sehari-hari akrab disapa Tyo. “Sebelum dapat medali emas di Kejurda, saya juga mempersembahkan medali emas di festival. Ini merupakan pengalaman pertama saya bertanding di luar daerah dan tingkat provinsi. Alhamdulillah bisa meraih prestasi bagi Kabupaten OKU, khususnya KKI Polres OKU,” kata Tyo ditemui di sela-sela persiapan mengikuti seleksi O2SN 2019.

Apa yang dicapai Tyo di ajang Kejurda tidaklah mudah. Bahkan dia mengalami cidera dan berlaga di partai final dalam kondisi kaki yang pincang. Sebab, beberapa ruas jari kaki kirinya sempat mengalami pembengkakan akibat benturan keras dengan kaki lawannya di semifinal. Cidera ini cukup menggangu Tyo saat tampil di final. Namun, atas semangat dan dorongan pelatih serta rekan-rekannya di luar lapangan, membuat Tyo tak menyerah begitu saja. Alhasil, meski di partai final dia bermain imbang tanpa skor alias 0 – 0, dewan juri banyak yang mengangkat bendera untuk kemenangan dirinya.

“Waktu di semifinal saya mau menangis karena sangat sakit kaki ini. Padahal, saya sudah memimpin perolehan skor. Tapi saya dengar teriakan pelatih dan teman-teman untuk bertahan, karena akan menuju final, saya tahan untuk tak menangis. Alhamdulllah sampai waktu habis saya unggul 3 – 0 atas lawan saya dan masuk final,” kenangnya.

Setelah keluar arena pertandingan usai menyelesaikan partai semifinal, Tyo mengaku tak mampu membendung lagi untuk menahan emosinya. Dia pun menangis, selain karena menang juga karena sakit pada kakinya yang tak tertahankan. “Jadi waktu itu, saya menangis dan dipeluk official . Kaki saya yang cedera diurut untuk mengurangi sakit, karena saya mau bertanding di final,” tambahnya.

Namun, kegigihan peraih juara kedua Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2018 Kabupaten OKU ini terbayar. Meski di open turnamen tak mampu mempersembahkan medali karena kelelahan dan cedera ditambah lawannya tak seimbang baik tinggi maupun besarnya, Tyo mengaku puas bisa mempersembahkan dua medali emas untuk kontingennya dari Kejurda dan Festival.

Prestasi yang diraihnya itu kata Tyo bisa menambah pengalaman bertanding dan meningkatkan mental, dalam mengikuti kejuaraan karate kedepannya. Sebagai pelajar SMPN 1 OKU, Tyo pun ingin mempersembahkan prestasi di bidang karate bagi sekolahnya agar  bisa mengharumkan nama sekolah. “Tidak sia-sia saya dilatih dan berlatih sendiri di rumah. Jauh hari sebelum mengikuti kejuaraan setiap malam berlatih dan sorenya saya joging di taman kota untuk melatih kekuatan fisik,” tandas Tyo.

(tin)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.