Banner Muba 23 – 31 Juli 2021
banner Pemprov Juni

Meroket Ekonomi Hingga 7 Persen, Faktanya Kemiskinan Bertambah, Cari Kerja Masih Susah

JAKARTA, koranindonesia.id – Badan Pusat Statistik melansir kabar baik bahwa ekonomi Indonesia tumbuh positif pada Kuartal II-2021, bahkan mencapai 7,07 persen secara tahunan (Year on year/yoy).

Dikutip dari data BPS, Jumat, 6/8), dari Kumparan, di lapangan usaha, sejumlah sektor ekonomi pun tumbuh positif dibanding periode yang sama tahun lalu.

Tertinggi adalah sektor transportasi- pergudangan tumbuh 25,10 persen dan akomodasi-makanan 21,58 persen.

Kemudian jasa lainnya 11,97 persen, jasa kesehatan 11,62 persen, jasa perusahaan 9,94 persen, administrasi pemerintahan 9,49 persen dan perdagangan 9,44 persen. Selanjutnya, pengadaan listrik-gas 9,09 persen, jasa keuangan 8,35 persen, infokom 6,87 persen dan industri pengolahan 6,8 persen.

Lalu, pengadaan air 5,78 persen, jasa pendidikan 5,72 persen, pertambangan 5,22 persen, dan konstruksi 4,42 persen. ada pula Sektor real estate dan pertanian yang naik masing-masing 2,82 persen dan 0,38 persen.

Pertanyaannya, kenaikan kinerja berbagai sektor ekonomi tersebut apakah berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja?

Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan, meskipun ekonomi RI sudah tumbuh positif, namun belum pulih dari sakit yang dialami karena COVID-19.

“Dampaknya (Positifnya pertumbuhan ekonomi) belum ideal bagi penciptaan lapangan kerja. Karena belum pulih pada kondisi normal.”

Dia menjelaskan, belum pulihnya lapangan kerja di Indonesia saat ini karena sejumlah sektor ekonomi yang menyerap tenaga kerja, kinerjanya belum maksimal. Seperti, sektor pertanian, industri dan perdagangan.

“Di mana Pertanian tumbuhnya paling kecil, Industri juga kecil dan perdagangan sudah mulai ada perbaikan. Artinya belum mencapai maksimal dalam penyerapan tenaga kerja,” tegasnya.

Terlepas dari masih susahnya cari kerja meski ekonomi tumbuh positif, Margo pun tidak mengungkapkan secara eksplisit apakah ekonomi RI sudah terbebas dari status resesi yang dialami. Namun dia menegaskan, ekonomi RI sudah mulai pulih.

“Ekonomi RI sudah membaik karena sudah positif. Namun belum kembali pada kondisi ekonomi sebelum pandemi COVID-19. Artinya itu tumbuh 3 persen, sebelum COVID kan 4 persenan,” tutupnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 yang mencapai 7,07 persen, menunjukkan bahwa arah kebijakan dan strategi Pemerintah sudah benar untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Sri menekankan, angka realisasi pertumbuhan ekonomi yang telah diumumkan sudah serupa dengan yang diperkirakan Kementerian Keuangan. Konsumsi rumah tangga yang disebut Sri sebagai sektor permintaan atau demand telah tumbuh 5,93 persen. Sementara itu investasi tumbuh hingga 7,54 persen dan ekspor 31,78 persen.

“Jadi cerita kuartal II menggambarkan arah pemulihan ekonomi sudah benar, strategi pemulihan ekonomi juga sudah benar dan juga sudah menghasilkan dampak,” ungkap Sri.

(AU)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.