Menteri KLHK Resmikan IPAL Komunal Wetland-Biocord Sungai Cidadap Karawang

JAKARTA,koranindonesia.Id-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meresmikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Wetland-Biocord dan pencanangan pengembangan Ekoriparian Sungai Cidadap, Karawang.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengatakan IPAL ini akan menurunkan beban pencemaran air, seperti telah dilakukan di Sungai Citarum. Pembangunan IPAL Wetland-Biocord ini agar masyarakat mampu mengolah air limbah dapur, mandi dan cuci.

“Selama ini limbah dibuang langsung ke Sungai Cidadap yang bermuara ke Sungai Citarum,” katanya dalam keterangan resmi, yang diterima koranindonesia.id, di Jakarta, Senin (11/02/2019).

Menurutnya pembangunan IPAL Wetland Biocord tahap 1 mulai dibangun pada 2017. Kapasitasnya mencapai 700 meter kubim (m3) perhari. IPAL ini berfungsi mengolah air limbah kegiatan rumah tangga dari 350 KK yang bermukim di Blok L Perumnas Bumi Teluk Jambe. Selanjutnya, karena tingkat pencemaran masih cukup besar, maka pada tahun 2018 dibangun lagi IPAL Wetland-Biocord tahap 2.

“Kapasitasnya sebesar 2.000 m3 perhari untuk mengolah air limbah dari 1.000 KK pemukim di Blok K Perumnas yang sama,” jelasnya.

Sehingga dengan total kapasitas 2.700 M3, pengoperasian IPAL ini berhasil menurunkan beban pencemaran yang masuk ke aliran DAS Citarum berupa limbah organik sebesar 91,8 ton COD pertahun dan padatan tersuspensi 19,7 ton TSS pertahun. Selain pembangunan IPAL, KLHK juga membangun Ekoriparian Citarum Karawang.

“Kawasan ini menjadikan areal bantaran sungai Cidadap di Desa Sukaluyu sebagai tempat wisata dengan konsep edukasi lingkungan,” terangnya.

Pengembangan ekoriparian ini diharapkan dapat membantu mengubah pola pikir masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Siti menegaskan, masyarakat sebagai ujung tombak dalam peningkatan kualitas air sungai sangat penting perannya dalam pengelolaan, pemanfaatan, pengembangan dan dalam menjamin keberlanjutan fungsi ekoriparian.

“Sampai saat ini, sudah terbangun sarana pengolahan air limbah dapur, mandi dan cuci dengan teknologi wetland serta biocor, saung kompos dan jembatan penghubung antara area wetland tahap 1 dan area eetland tahap 2,” pungkasnya.

Selain itu, tanaman obat keluarga, pohon endemik, arboretum bambu, budidaya tanaman hidroponik, area sport lapangan basket, futsal, voli, badminton dan lain-lain. (Erw)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.