Banner pemprov Sumsel Vaksin
Muba vaksin maret 2021

Menkopolhukam Pastikan Pemerintah Tidak Tanggapi Tuduhan Din Syamsuddin Radikal

 

JAKARTA, koranindonesia.id – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI (Menkopolhukam) Mahfud MD turut angkat bicara terkait pihak yang menuding Din Syamsuddin sebagai bagian dari kelompok radikal.

 

Kata Mahfud MD, Pemerintah tidak pernah menganggap Din Syamsuddin radikal atau penganut radikalisme.

 

“Pak Din itu pengusung moderasi beragama (Wasathiyyah Islam) yang juga diusung oleh Pemerintah. Dia juga penguat sikap Muhammadiyah bahwa Indonesia adalah “Darul Ahdi Wassyahadah”. Beliau kritis, bukan radikalis,” kata @mohmahfudmd, dikutip Minggu (14/2/2021).

Menurutnya, Muhammadiyah dan NU kompak mengkampanyekan bahwa NKRI berdasar Pancasila sejalan dengan Islam.

 

“NU menyebut “Darul Mietsaq”, Muhammadiyah menyebut “Darul Ahdi Wassyahadah”. Pak Din Syamsuddin dikenal sebagai salah satu penguat konsep ini. Saya sering berdiskusi dengan dia, terkadang di rumah JK (Jusuf Kalla),” katanya.

 

Tak dapat dipungkiri bahwa memang ada beberapa orang yang mengaku dari ITB menyampaikan masalah Din Syamsuddin kepada Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo.

 

Namun, laporan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah. Sebab Din Syamsuddin bukanlah orang yang radikal.

 

“Pak Tjahjo mendengarkan saja, namanya ada orang minta bicara untuk menyampaikan aspirasi ya didengar. Tapi pemerintah tidak menindaklanjuti apalagi memproses laporan itu,” ujarnya.

 

Bedasarkan informasi, Din Syamsuddin yang juga seorang Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dilaporkan oleh Gerakan Anti Radikalisme (GAR) alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat ini, pelaporan tersebut telah ditangani oleh KASN.

 

GAR ITB juga pernah melaporkan Din Syamsuddin ke KASN berkenaan dengan pelanggaran kode etik dan kode perilaku pada Oktober 2020. Namun, beberapa waktu kemudian GAR ITB mendatangi langsung KASN berharap pelaporan tersebut langsung ditanggapi. Salah satu isi laporan yakni soal sikap Din yang dianggap mengeksploitasi sentimen agama.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.