Banner sumsel

Menkeu Soroti Dampak Sosial Era Digital Transformasi Bisnis Konvensional

JAKARTA, koranindonesia.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani menyoroti dampak sosial di era digital terutama transformasi bisnis konvensional menjadi digital yang memungkinkan adanya pengaruh negatif dari sisi tenaga kerja.

Hal ini diungkapkan Sri Mulyani dalam acara Indonesia Banking Expo (IBEX) 2018 di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Sri Mulyani mengatakan pemerintah melihat apa yang perlu diformulasikan agar industri konvensional juga bisa beradaptasi dengan sesedikit mungkin mengorbankan masyarakat.

“Bahwa transformasi teknologi bisa menimbulkan solusi namun juga bisa menimbulkan ekses negatif,” tambah Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini

Untuk lebih memunculkan dampak positif dari transformasi teknologi, lanjut Menkeu, inklusi keuangan menjadi penting mengingat, ekonomi digital cenderung mengesampingkan mereka yang belum mempunyai kesempatan untuk masuk dunia digital. Bahwa masyarakat yang tidak mampu menggunakan teknologi digital masih tertinggal.

“Sekitar 50% masyarakat Indonesia belum masuk dalam ekonomi digital, meskipun Indonesia memiliki beberapa perusahaan unicorn yang dibanggakan di tanah air,” terangnya

Sri Mulyani mengatakan, tugas pemerintah adalah fokus membangun fondasi ekonomi melalui pembangunan infrastruktur, terutama yang menyangkut konektivitas dan aksesibilitas ekonomi digital.

“Jadi, kalau kita bicara Bukalapak, Go-jek, Tokopedia, mereka bisa masuk ke seluruh pelosok Indonesia. Mereka mungkin bisa penetrasi dengan cepat, namun harus perlu dibangun infrastruktur agar masyarakat Indonesia bisa included dalam ekonomi digital,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, co-founder dan Presiden Bukalapak Fajrin Rasyid mengatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan inklusi keuangan melalui pemberdayaan ekonomi mikro dengan melibatkan warung tradisional dan toko kelontong sebagai agen Bukalapak.

Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah terdapat sekitar 400.000 agen Bukalapak di seluruh Indonesia, dan menyumbang sekitar Rp1 triliun bagi bisnis Bukalapak.

“Agen tersebut terutama menyasar masyarakat yang belum familiar dengan cara belanja dalam jaringan (online),” tandasnya.

(erw)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.