Pemprov Ramadhan
Banner april lebaran

Mendikbud Nadiem Sebut Indonesia Darurat Engineering Mindset

 

 

JAKARTA, koranindonesia.id – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menegaskan, transformasi di dunia pendidikan yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lewat berbagai inisitaif dilandaskan pada pemanfaatan teknologi sebagai enabler yang pada akhirnya akan meng-upgrade kemampuan atau produktivitas pelaku sektor pendidikan itu sendiri khususnya para guru.

Demikian disampaikan Naiem Dalam sesi Fireside Chat dengan Ilham Habibie, Co-Founder Orbit Future Academy di acara Indonesia Education Forum menggelar 2nd Annual Indonesia Education Forum 2021 dengan tema “TRANSFORMING EDUCATION: Fostering Creativity & Critical Thinking”, Selasa (27/4/2021).
Menurutnya, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi dan memahami bagaimana cara menjalankan sebuah teknologi, namun juga perlu menjadi produsen teknologi. Adanya kemampuan tersebut memungkinkan tidak hanya menciptakan platform yang akan digunakan di internal kementerian, namun juga mengubah filosofi cara kementerian mengeksekusi satu program. Dengan berbasiskan data, kementerian bisa menggunakan informasi yang ada untuk menentukan kebijakan secara lebih dinamis. Teknologi juga dimanfaatkan untuk mereformasi birokrasi yang cenderung selalu menyeragamkan (standarisasi) semua hal.

 

“Saya merupakan salah satu yang menentang prinsip one-size-fits-all, misalnya dalam hal penilaian siswa. Model atau sistem penilaian yang terstandarisasi adalah salah satu isu terbesar di dunia pendidikan. Dengan tujuan awal untuk mempermudah menilai siswa, membandingkan siswa, kami menstandarisasi kurikulum, ujian dan banyak hal lainnya. Inilah bahayanya dalam melakukan transformasi pendidikan. Menurut pemikiran saya, teknologi memainkan peranan pivotal dan membuktikan bahwa kita bisa mengukur banyak hal tanpa perlu menstandarisasinya. Saya rasa ini merupakan hal yang sangat kuat dalam mentransformasi apa yang terjadi di dalam kelas sepanjang waktu,” kata Nadiem.

 

Kedua, perlunya membangun talenta yang memiliki critical thinking mengingat besarnya gap antara permintaan industri dengan ketrampilan yang dimiliki lulusan Indonesia saat ini. Sistem pendidikan Indonesia juga perlu menghasilkan lulusan yang bisa menjadi pengusaha mikro, mengingat Indonesia memiliki begitu banyak angkatan kerja yang belum siap pakai. Sayangnya, di sistem pendidikan calon angkatan kerja tidak terbiasa atau tidak pernah memiliki simulasi terkait dunia kerja sesungguhnya.

“Mahasiswa atau pelajar kita tidak memiliki gambaran terkait kehidupan di lingkungan kantor karena di kampus atau sekolah tidak pernah ada simulasi terkait seperti apa lingkungan kerja sesungguhnya,” tambah Nadiem.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.