Marawis dan Generasi Muda

Tepuk tangan meriah terdengar mengema setelah sejumlah remaja putra dan putri berpakaian muslim berwarna putih mengakhiri pertunjukannya pada resepsi pernikahan Adi Prayogo dan Sri Kustini di Desa Bukit Bentung Banyuasin, Minggu (8/04/2018). Para remaja ini baru saja menampilkan seni marawis, yaitu seni musik religi bernuasan islami.

Marawis adalah salah satu jenis “band tepuk” dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi, dan memiliki unsur keagamaan yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta.

Dari informasi yang dikumpulkan  kesenian marawis bermula dari  negara timur tengah terutama dari Yaman. Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan hajir (gendang besar) berdiameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 Cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm, dumbuk atau (jimbe) (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan tamborin atau krecekdan [Symbal] yang berdiameter kecil. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu.

Pengasuh grup Marawis An- Nur Ustadz Rahmad Hidayat  mengatakan grup ini sudah berdiri sejak 2015, yang pemainnya para santriwan dan satriwati yang   penampilan sudah tidak diragukan lagi. Musik beirama religi ini digagas oleh Pengurus TPA AN-NUR jalan Telkom Kelurahan Betung. Marawis An-Nur sering tampil pada acara-acara resmi di Kabupaten Banyuasin dan Provinsi Sumsel.

Ustadz Rahmad menambahkan, sebenarnya seni religi ini mulanya sekedar untuk materi tambahan pada santri supaya tidak jenuh, tapi justru menjadi sarana pemacu semangat asuhanya dan mendapat dukungan dari semua pihak terutama pengurus dan wali santri. Masih kata Ustadz, selain kegiatan intinya menjadikan sebagai Hafizh  Al-Qur’an juga mendidik generasi penerusnya agar seni religi ini terus berkembang menjadi lebih baik.

Dia berharap seni berirama islami ini  menjadi kebutuhan masyarakat untuk berbagai kegiatan baik dalam resepsi pernikahan, khitanan, syukuran bahkan acara keagamaan sekalipun.

Marawis sendiri memiliki tiga jenis pukulan seperti dijelaskan pada Katalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI, 1997, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Nada zapin adalah nada yang sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat). Tempo nada zafin lebih lambat dan tidak terlalu menghentak, sehingga banyak juga digunakan dalam mengiringi lagu-lagu Melayu.

Pukulan sarah dipakai untuk mengarak pengantin. Sedangkan zahefah mengiringi lagu di majlis. Kedua nada itu lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat. Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan ngangkat. Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta perkawinan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islam.

Sementara, pemuka masyarakat Betung, Tambah (65) mengaku bangga zaman modern sekarang masih banyak anak-anak muda menyukai kesenian yang sangat islami. Kakek 8 cucu ini berdoa semoga kesian bernafaskan islami ini terus berkembang dan mendapatkan dukungan dari pemerintah dan bertujuan para generasi bangsa kita tidak terbawa arus yang bertentangan dengan ajaran agama dan negara kita, akunya seraya berharap anak-anak kita bersemangat.(wal)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.