Banner sumsel

Mang Din: Yang Penting Halal    

Sesekali lelaki paruh baya itu mengusap keringat yang mengucur menggunakan handuk kusam yang digantungkannya di leher. Di tengah panasnya sengatan matahari, pekatnya asap dan debu jalan, serta bisingnya lalu lalang kendaraan yang tak beraturan, dia tetap fakus mengatur lalu lintas.

Di tubuh sigap itu terpasang atribut sepatu, rompi hijau dan topi hitam serta digenggaman tangan kanannya sebuah tongkat pengatur jalan mengarahkan setiap laju kendaraan agar tertib dan lancar. Polisi bukan, ia seorang yang punya kemauan dan keikhlasan tanpa kenal lelah dan payah untuk terus berjuang demi sesuap nasi.

Syamsudin atau yang lebih akrab disapa Mang Din (53) biasa dia disapa, lelaki dari tiga anak tersebut tinggal di Dusun 2 Talang Pangeran, Pemulutan Barat Ogan Ilir. Pekerjaannya sebagai pengatur jalan di Lintas Timur Sumatera, tepatnya di jalan Nusantara, Inderalaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sepertiga jalan yang tak jauh dari gerbang depan kampus Unsri Inderalaya.

Pekerjaan sebagai pengatur jalan telah ia dilakoninya sejak tahun 2013 lalu, sebelumnya ia bercocok tanam menanam padi di lahan milik bersama peninggalan orang tua. Namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan karena gagal panen. Lagipula  lahan tersebut juga bukan hak miliknya pribadi, melainkan milik bersama, sehingga memakainya juga harus bergantian dengan keluarganya yang lain.

Sebelumnya, Mang Din pernah mencoba  menjadi buruh dan semua pekerjaan apapun yang ditawarkan kepadanya Mang Din terima. Sebelum  akhirnya Mang Din memutuskan untuk menjadi pengatur jalan.

Sebenarnya pekerjaan mengatur jalan ini tidak ada yang menggaji, melainkan hanya sukarela dari pengguna jalan yang merasa terbantu oleh jasa Mang Din dalam mengatur laju lalu lalang kendaraan yang melintas.

“Tidak ada yang gaji, Cuma dapat dari pemberian seikhlas orang yang lewat, kebanyakan yang kasih mahasiswa.” tutur Mang Din.

Alasannya memilih pekerjaan ini semata-mata hanya untuk membantu memudahkan pengguna jalan, walaupun upah yang diterima tak sebanding dengan perjuangannya yang bekerja dari pagi hingga petang. Hal demikian pun tak lantas membuat keluarga memberikan respon tak baik, melainkan keluarga selalu mendukung dan menerima berapa pun hasilnya.

“Kalau ibu dukung, selagi yang dikerjakan halal. Selalu terima berapa pun yang mamang kasih.” Ujar Mang Din.

Sebenarnya, jumlah pemberian sukarela yang didapat tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari lima anggota keluarga dan biaya sekolah dua anaknya yang masih mengenyam pendidikan di bangku SMP dan SMA.

Rata-rata uang yang Mang Din peroleh perhari nominal tertinggi mencapai Rp70- 80ribu saja, terkadang juga hanya Rp30ribu saja. Namun, Mang Din tetap bersyukur dan keluarga harus bisa mengatur  keuangan agar tercukupi keperluannya.

“Penghasilan naik turun. Kalau tinggi ya cukup, kalau rendah ya dicukup-cukupi.” kata Mang Din pelan.

Untuk menambah kekurang Keluarga istri Mang Din juga ikut bekerja sebagai buruh pembersih ikan di dusunnya, sedangkan putra sulungnya sesekali melalui ajakan temannya membantu memanggang kerupuk kemplang milik tetangganya. Walaupun hasilnya terbilang minim, namun upah hasil istri Mang Din membersihkan ikan yang digunakan sebagai bahan pembuat kerupuk kemplang tersebut cukup untuk tambahan kebutuhan sehari-hari mereka. Sedangkan hasil dari putra sulungnya digunakan untuk keperluannya sendiri, setidaknya mengurangi sedikit beban Mang Din.

“Istri kerja ikut tetangga membersihkan ikan untuk dibuat kerupuk kemplang, upah sekilonya Rp1000. Sehari bisa membersihkan ikan sebanyak 20kg. Jadi, sehari bisa kumpulin Rp20 ribu.” Tutur Mang Din.

Menurut Yuni, pedagang kaki lima di sekitar jalan tempat Mang Din bekerja, sudah lama mengenal Mang Din. Menurutnya Mang Din  sosok yang ikhlas dan terus bersemangat dalam mencari nafkah demi keluarga, tak peduli sekeras dan sesulit apapun.

“Mang Din lakukan semuanya tanpa berkeluh kesah. Mang Din dikenal karena keramahan dan keakrabannya terhadap lingkungan sekitar,”katanya.  Sepengetahuan Yuni, Mang Din mengatur jalan di  pagi sampai sore,

Riska Irmawati (21) Mahasiswa Fisip semester enam ini kerap melalui jalan yang di jaga oleh Mang Din beranggapan bahwa ia dan pengendara lainnya  sangat terbantu dengan adanya Mang Din karena banyaknya kendaraan roda dua maupun roda empat yang berlalu-lalang sangat ramai.Sehingga dengan adanya Mang Din, semua berjalan lancar, tertib dan tidak saling mendahului.

“Ngerasa sangat terbantu karena kalau tidak ada Mang Din pasti saling mendahului, tidak ada yang mau mengalah.” Terang Riska.

Sebagai bentuk rasa terimakasihnya, Riska pun sesekali memberikan tips kepada Mang Din. Tak lupa ia juga berharap kepada Mang Din untuk terus bersemangat dalam bekerja dan mendoakan agar rezeki Mang Din dilancarkan melalui pekerjaannya tersebut.

“Semangat, semoga rezekinya selalu lancar.” Tambah Riska.

Kini harapan yang masih menjadi angan Mang Din adalah merampungkan penyelesaian rumah yang berdiri di atas air, sebab kawasan rumah Mang Din yang berada di rawa-rawa itu belum sepenuhnya jadi karena terkendala oleh biaya. Nah, kalau lewat di daerah Unsri Indralaya jangan lupa sisikan rezeki untuk Mang Din. Hati-hati di Jalan.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.