Muba ramadhan
Banner pemprov Sumsel Vaksin

Makin Panas Kudeta Militer di Myanmar, Ribuan Warga Kabur Selamatkan Diri

 

JAKARTA, koranindonesia.id – Kudeta militer di Myanmar kian memanas, akibatnya ribuan warga panik dan berhamburan untuk menyelamatkan diri dari pinggiran kawasan bekas ibukota Myanmar.

Keadaan genting akibat militer ingin merebut kekuasan di negara Asia Tenggara tersebut, mengakibatkan puluhan demonstran tewas dan junta menerapkan status darurat militer.
Pasukan keamanan hingga kini masih bertahan di zona industrial Hlaing Tharyar di Yangon, Myanmar. Lebih dari 40 orang tewas dan sejumlah pabrik dibakar seperti yang diungkapkan warga pada Minggu (14/3).

Pemutusan jaringan internet pasca aksi kekerasan dan berdampak pada semua wilayah. Hanya segelintir orang yang mempunyai akses internet sehingga informasi yang didapat dari Myanmar sulit diverifikasi.
Dikutip dari Reuter, Rabu (17/3), seorang warga mengatakan, keadaannya sudah seperti zona perang, dan saling lepas tembakan di mana-mana, sebagian besar warga sangat ketakutan untuk keluar.

Banyak warga Myanmar di Hlaing Tharyar, pinggiran kota yang miskin dan banyak dihuni oleh para migran serta buruh pabrik, berlarian untuk menyelamatkan diri.

Menurut laporan Frontier Myanmar, warga pergi membawa barang berharga miliknya dengan menggunakan sepeda motor dan bajaj, setelah militer memberlakukan status darurat di daerah tersebut dan di lima kota lainnya di Yangon menyusul aksi kekerasan selama akhir pekan.

Dua dokter juga mengatakan bahwa masih terdapat korban luka yang membutuhkan perhatian medis di daerah tersebut, tetapi lagi-lagi militer menutup akses pintu masuk dan keluar.
“Junta militer memblokir semua akses pintu masuk dan keluar,” ujar salah satu dokter, seperti dikutip dari Antara.
Ketua kelompok HAM Fortify Rights, Matthew Smith, menuliskan pandangannya mengenai kondisi di Myanmar melalui cuitannya di Twitter.
“Kami diberitahu tentang kemungkinan puluhan orang lainnya tewas di Hlaing Thar Yar saat ini. Kendaraan darurat tidak bisa masuk ke area tersebut karena jalan ditutup,” katanya.
Sejauh ini, lebih dari 180 demonstran tewas saat pasukan keamanan berupaya menghancurkan penentang jenderal-jenderal, yang menggulingkan Aung San Suu Kyi beserta kabinetnya melalui kudeta militer 1 Februari 2021. (Red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.