Banner pemprov Sumsel Vaksin
Muba vaksin maret 2021

Makin Gawat, Kasus Mutasi Virus Corona Terjadi di Berbagai Negara

 

JAKARTA, koranindonesia.id – Kasus varian COVID-19 yang awalnya hanya diidentifikasi di Inggris kini justru dilaporkan makin meluas. Berbagai negara di Eropa, Afrika, Timur Tengah, hingga Asia bahkan dikatakan telah ikut mengonfirmasi kasus serupa.
Sebagaimana dilansir dari BBC hingga Al Jazeera, ada beberapa negara yang kini tercatat telah melaporkan kasus infeksi varian virus seperti di Inggris. Di antaranya termasuk Spanyol, Swiss, Swedia, Perancis, Australia, Denmark, Kanada, Italia, Lebanon, Belanda, Spanyol, Gibraltar, Islandia, Swedia, Singapura, dan bahkan Jepang.

Kemudian, di Afrika Selatan, varian juga ditemukan, tetapi strain yang dikenal 501.V2 ini dikatakan berbeda dengan yang di Inggris. Meski begitu, strain di Afrika Selatan ini disebutkan lebih menular daripada varian di Inggris.

Laporan itu juga sebelumnya telah dikonfirmasi oleh Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock.

“Varian baru ini sangat memprihatinkan karena masih lebih dapat ditularkan dan tampaknya telah bermutasi lebih jauh daripada varian baru yang telah ditemukan di Inggris,” kata Hancock seperti dilansir dari DW pada Minggu (27/12/2020).

Hal yang sama juga terjadi di Nigeria. Kasus varian yang awalnya dilaporkan pada 24 Desember lalu ini diidentifikasi sebagai P681H. Jenis ini adalah garis keturunan yang terpisah dari mutasi lainnya, tetapi tampaknya tidak menyebar secepat dua varian baru di Inggris atau Afrika Selatan.

Sementara di dua negara Asia, yaitu Jepang dan Singapura, laporan munculnya kasus varian baru terjadi hampir bersamaan.

Jepang diketahui mulai melaporkan lima kasus pertama varian pada 25 Desember lalu. Disebutkan pula bagaimana kasus itu muncul dari penumpang yang datang dari Inggris. Sedangkan, Singapura mulai mengonfirmasi kasus varian pada 24 Desember.

Kala itu, Kementerian Kesehatan Singapura membeberkan bahwa di antara 31 pasien COVID-19 yang tiba antara 17 November-17 Desember, satu dipastikan membawa jenis B.1.1.7.

Kemudian, Lebanon yang juga baru masuk ke daftar, mengatakan bahwa kasus pertama terdeteksi pada 25 Desember.

Kasus itu disebutkan berasal dari penerbangan Middle East Airlines 202 dan tiba dari London pada 21 Desember.

Lalu, di Spanyol, empat kasus varian baru dikonfirmasi di Madrid. Pasien-pasien ini juga dikatakan telah melakukan perjalanan dari Inggris.

Meski begitu, tidak ada pasien yang menunjukkan gejala sakit parah.

Namun, meski laporan kasus varian baru makin bermunculan, ahli masih memperingatkan bahwa hingga kini belum ada bukti bahwa varian baru lebih mematikan atau menyebabkan gejala lebih parah.

Selain itu, vaksin terkemuka yang dikembangkan dalam beberapa bulan terakhir juga dikatakan masih bisa berfungsi, menurut para ahli.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.