Banner sumsel

Ini Faktor  yang Menangkan HD di Pilgub Sumsel

PALEMBANG,koranindonesia.id– Sejumlah lembaga survey yang melakukan hitung cepat (quick count) memenangkan pasangan no urut 1 Herman Deru dan Mawardi Yahya dalam pilkada Provinsi Sumsel. Lingkaran Survei Indonesia (LSI Network) menyebutkan perolehan suara sementara 35,91 persen  mengunguli paslon lain dengan data 94 persen masuk.

Peneliti LSI Miftah Khairi Amrillah menyebutkan dari 10 dapil di Sumsel,  Deru bisa menang di daerah yang mata pilihnya banyak seperti Palembang. Selain itu,  Deru menang di basis mata pilihnya seperti OKUT dengan perolehan suara hampir 80 persen.  Sedangkan Dodi hanya menang tipis di Dapil 6, 7, 8  9 dan 10. Selisih ketat hanya 5 persen dengan Herman Deru.

“Faktor Deru menang karena dia  bisa dapat suara diatas 80 persen dibasisnya.  Sedangkan Dodi  di Muba hanya menang 62,33 persen. Artinya Deru pemilih dibasisnya bisa dimobilisasi sedangkan Dodi hanya 62 persen. Pertarungan Deru dan Dodi di Palembang. Namun  di Palembang deru bisa menyaingi Dodi, selisihnya sampai 10 persen. Dan pertarungan di  Palembang dimenangkan Deru,” katanya.

Menurutnya,  walaupun ada isu perselingkuhan untuk Deru namun bisa ditepis dan bisa diyakinkan oleh Deru ke pemilih loyalnya. Bahkan Deru bisa meyakinkan masyarakat OKUT memilih Deru hampir 80 persen.

“Faktor ketiga, Dodi kalah karena Dodi dianggap masih muda dan belum berpengalaman. Selain itu Dodi dinilai mendompleng bapaknya.  Jadi Dodi Reza dianggap belum saatnya memimpin Sumsel,” bebernya.

Sementara  wakil dan partai sama sekali tidak begitu besar perannya, karena yang paling mengangkat menurut Miftah figur cagub,  wakilnya di layar kedua. Padahal isu yang menerpa Mawardi terkait ijazah palsu terus digulirkan. Sementara peran partai hanya menyumbang 20 persen.  Fungsi partai hanya sebagai organisator untuk kampanye.  Kalau mobilisasi dilihat figurnya.

Dikatakan Miftah bahwa  survei sebelumnya Dodi  unggul pas bulan puasa.  Track record Dodi menanjak.  Saat itu ada isu yang melemahkan Deru seperti asusila dan ijazah palsu.  Tapi Deru bisa mengklarifikasi.  Dan itu isu lama.   Selain itu,  kata Miftah,  faktor lain Deru unggul sekarang,  karena pada survei bulan puasa lalu swing voter  saat survei di angka 23 persen cukup tinggi.

“Dodi kalah karena dengan selisih cukup besar dengan Deru di  pertarungan di Palembang.  Sedangkan Dodi menang di daerah lebih sedikit penduduknya,” pungkasnya.

Sementara pengamat politik dari Forum Demokrasi Sriwijaya (ForDes) mengatakan bahwa ada sejumlah faktor kenapa HD menang dalam pilgub Sumsel. Pertama, HD tetap melakukan kerja politik kemasyarakat 1 tahun pasca kegagalannya dalam Pilgub tahun 2013. Kedua, cerdasnya mengangkat issue kesenjangan dalam setiap kampanyenya, misal kesenjangan pembangunan antara Ibukota Provinsi  dengan daerah lainnya di wilayah Sumsel (Palembang Sentris). Ketiga, cenderung efektif issue politik dinasty, keempat mesin parpol pendukung juga cukup solid.

Namun, ada satu hal yang perlu juga dilihat bahwa HD banyak di dukung oleh tokoh-tokoh senior Sumsel, seperti Syahrial Oesman, Eddy Santana Putra (ESP) dan tokoh lainya.

“Maka tidak heran kalau HD menang juga di Palembang karena faktor tokoh ini ESP dua priode jadi walikota Palembang,”kata kepada koranindonesia.id.

Namun, hasil quick count bukan lah hasil akhir  melainkan indikasi dugaan awal siapa yang memeroleh dukungan tertinggi di Sumsel.  Hasil resmi tetap kita menunggu dari KPU.  (win/ard)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.