
Longsor Tambang Koltan Kongo Tewaskan Lebih 200 Orang
koranindonesia.id – Hujan lebat memicu tanah longsor besar di tambang koltan Rubaya, wilayah timur Republik Demokratik Kongo.
Kementerian Pertambangan Kongo melaporkan lebih dari 200 orang meninggal akibat bencana tersebut. Peristiwa terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026.
Tim penyelamat segera mencari korban di area tambang setelah longsor menimbun banyak pekerja. Tanah dan lumpur menutup sebagian besar area kerja penambang.
Selain itu, kementerian juga melaporkan sekitar 70 anak-anak termasuk dalam daftar korban tewas. Banyak keluarga kehilangan anggota keluarga dalam peristiwa tragis tersebut.
Bencana ini kembali menunjukkan risiko besar bagi para penambang di wilayah tersebut.
“Baca Juga: Laporan Ungkap 900 Tembakan ke Konvoi Medis Gaza“
Tim medis dan relawan segera mengevakuasi korban luka dari lokasi tambang.
Petugas membawa para korban ke fasilitas kesehatan di Kota Goma. Kota tersebut menjadi pusat layanan kesehatan terbesar di wilayah itu.
Dokter dan tenaga medis bekerja cepat menangani para korban yang mengalami luka berat. Banyak korban mengalami cedera akibat tertimbun tanah dan batu.
Sementara itu, keluarga korban mulai berdatangan ke rumah sakit untuk mencari informasi tentang kerabat mereka.
Situasi di beberapa fasilitas kesehatan juga menjadi sangat sibuk setelah kedatangan banyak korban dalam waktu singkat.
Kelompok pemberontak AFC/M23 mengendalikan area tambang Rubaya sejak tahun 2024.
Namun, seorang pejabat senior dari kelompok tersebut memberikan angka korban yang jauh lebih rendah. Ia menyebut hanya lima atau enam orang meninggal.
Ia menyampaikan pernyataan tersebut kepada kantor berita Reuters.
Perbedaan angka korban memunculkan pertanyaan tentang kondisi sebenarnya di lokasi tambang.
Meski demikian, pemerintah Kongo tetap menyatakan jumlah korban mencapai lebih dari 200 orang.
Tambang Rubaya menghasilkan sekitar 15 persen pasokan koltan dunia.
Perusahaan pengolahan kemudian mengubah koltan menjadi tantalum. Logam ini memiliki daya tahan tinggi terhadap panas.
Industri teknologi menggunakan tantalum dalam berbagai perangkat penting.
Produsen memanfaatkan logam tersebut untuk membuat telepon seluler, komputer, dan perangkat elektronik lainnya.
Selain itu, industri kedirgantaraan juga menggunakan tantalum untuk komponen pesawat dan turbin gas.
Karena itu, tambang Rubaya memiliki peran besar dalam rantai pasokan global.
Pemerintah Kongo baru-baru ini memasukkan tambang Rubaya dalam daftar aset pertambangan penting.
Pemerintah menawarkan daftar tersebut kepada Amerika Serikat dalam rencana kerja sama mineral.
Kerja sama itu bertujuan memperkuat pengelolaan sumber daya tambang Kongo.
Namun, konflik bersenjata di wilayah tersebut terus mempersulit pengawasan dan keamanan tambang.
Akibatnya, banyak kegiatan penambangan berlangsung dalam kondisi yang tidak stabil.
Bencana terbaru ini bukan kejadian pertama di tambang Rubaya.
Pada akhir Januari 2026, kecelakaan di lokasi yang sama menewaskan lebih dari 200 orang.
Selain itu, hujan lebat sering memicu tanah longsor di wilayah Kongo timur.
Banyak penambang tradisional bekerja di area berisiko tinggi setiap hari.
Mereka menggali tanah tanpa perlindungan memadai dan sering menghadapi kondisi kerja berbahaya.
Karena itu, para ahli terus mengingatkan perlunya pengawasan dan sistem keselamatan yang lebih kuat.
Tanpa perubahan besar, kecelakaan tambang serupa kemungkinan akan terus terjadi di masa depan.
“Baca Juga: Kemenkes Targetkan Kematian Kanker Payudara Turun“