Banner sumsel

Layang-layang Hiasi Langit Musirawas

Musirawas,koranindonesia.id-Puluhan layang-layang berbagai ukuran dengan aneka warna menghiasi langit Musirawas di Agropolitan Center, Minggu (25/3). Puluhan layang-layang itu merupakan hasil kreativitas pemuda-pemudi karang Taruna Desa Surodadi Kecamatan Tugumulyo.

Permainan layang-layang adalah permainan tradisional yang sudah jarang dimainkan karena berbagai sebab. Kini, permainan itu  coba dihidupkan lagi di Desa Surodadi Kabupaten Musirawas.

Joni Nasution pengagas acara mengatakan permainan layang-layang sudah jarang dimainkan orang dan sekarang coba untuk dihidupkan lagi dengan tempat yang lebih terpusat. Dia berharap  melalui kegiatan ini pemuda dan pemudi semakin tinggi  kreativitasnya untuk hal-hal yang lebih positif.

“Alhamdulilah, semua layang-layang yang ada merupakan hasil buatan  pemuda dan pemudi melalui Karang Taruna,”katanya.

Sejak digagasnya permainan layang-layang di Agropolitan ini peminatnya makin banyak. Bahkan separuh dari warga Desa Surodadi ikut berpartisiapasi bermain layang-layang.

“Dengan dilakukan kegiatan seperti ini (layang-layang) sangat memberi efek yang positif untuk bagi pemuda dan pemudi di Daerah Kabupaten Musirawas, khususnya Desa Sorodadi. Kedepanya, saya juga berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Musirawas untuk memberi fasilitas untuk kereativitas untuk pemuda dan pemudi dalam berbentuk Festival, sehingga anak-anak muda dan masyarakat  termotivasi untuk berkreativitas membuat layang-layang,”ujarnya.

Layang-layang hasil kreativitas karang taruna sangat beragama  ada berbentuk wayang golek, burung, ikan dan lainnya. Sedangkan untuk bahan baku untuk pembuatan layang-layang tersebut seperti bambu sangat banyak terdapat  di Desa Surodadi. Lagipula membuat layang-layang tidak membutuhkan waktu yang lama, satu layang-layang berukuran sedang bisa diselesaikan dalam waktu 2 jam saja.

“Kalau untuk harga satu layang-layang dijual dengan harga sebesar Rp10 ribu sampai Rp50 ribu, tergantung ukuran dan modelnya seperti apa,”katanya.

Sementara itu,  Tamam  tokoh masyarakat dan juga pengerak gerakan bermain layang-layang ini   mengatakan, awalnya dia melihat anak-anak bermain layang-layang di pingir jalan raya,  lalu   dikumpulkan dan memberi arahan dan bimbingan. Kemudian dibawa ke tempat yang lebih nyaman untuk bermain layang-layang agar tidak mengganggu jalan umum.

“Jika nanti peminatnya banyak dan konsisten akan kami buatkan seperti lomba atau festival layang-layang. Untuk saat ini sudah ada beberapa Desa atau kampung yaitu  kampung F, G, Kali Bening, Betung yang sudah bergabung untuk bermain layang-layang. Sedangkan untuk bentuk layang-layang tersendiri tidak terbatas, karena hasil dari inovasi dan kreativ anak-anak, pemuda dan pemudi,”Jelasnya.

Tamam juga memberi masukan kepada pemuda-pemudi untuk mencari bahan lain dalam membuat layang-layang seperti kain atau bahan parasut, karena kalau hanya dibuat dengan kertas yang mudah sobek.

“Persoalnnya mendapatkan bahan-bahan yang berkualitas sangat susah didapatkan di daerah ini, seperti bahan parasut, kalu memakai kertas seperti ini, kalau sekali pakai sudah banyak yang sobek dan mudah sobek,”tandasnya. (Shandy April)

 

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.