
Laporan Ungkap 900 Tembakan ke Konvoi Medis Gaza
koranindonesia.id – Sebuah penyelidikan independen mengungkap fakta mengejutkan di Rafah pada 2025. Tentara Israel melepaskan lebih dari 900 peluru ke konvoi kendaraan darurat. Serangan itu menewaskan 15 pekerja bantuan Palestina.
Insiden terjadi pada 18 Maret 2025 di Tal as-Sultan, Gaza selatan. Tim tanggap darurat datang untuk mengevakuasi warga sipil yang terluka. Namun, mereka justru menghadapi rentetan tembakan.
Korban terdiri dari petugas medis dan anggota pertahanan sipil. Beberapa korban bekerja untuk Palang Merah Palestina. Mereka mengenakan seragam dan rompi pengenal saat bertugas.
“Baca Juga: Gempa M3,0 Guncang Enggano, BMKG Rilis Detail“
Lembaga riset Forensic Architecture bekerja sama dengan kelompok investigasi audio Earshot menyusun laporan rinci. Mereka merilis temuan pada 23 Februari 2026.
Tim peneliti menganalisis rekaman audio dari ponsel salah satu paramedis. Mereka juga memeriksa citra satelit dan video. Selain itu, mereka mengumpulkan kesaksian saksi di lapangan.
Analisis menunjukkan setidaknya 910 tembakan terjadi selama serangan. Sebanyak 844 peluru dilepaskan dalam lima setengah menit. Peneliti menyimpulkan sedikitnya lima penembak menembak secara bersamaan.
Kesaksian saksi menyebut sekitar tiga puluh tentara berada di lokasi. Beberapa korban mengalami tembakan jarak dekat. Laporan menyebut pola tembakan menunjukkan tindakan terarah.
Para korban menggunakan lima ambulans dan satu truk pemadam kebakaran. Semua kendaraan memiliki tanda jelas dan lampu darurat aktif. Namun, serangan terus berlangsung tanpa jeda.
Setelah itu, pasukan menghancurkan kendaraan dengan alat berat. Laporan menyebut pasukan mengubur kendaraan bersama jasad korban. Peneliti menemukan kuburan massal di dekat lokasi kejadian.
Selain itu, laporan mencatat perlakuan terhadap dua korban selamat. Pasukan Israel menahan salah satu korban selama 37 hari tanpa dakwaan. Mereka menahannya di fasilitas Sde Teiman di Israel.
Korban tersebut keluar dalam kondisi kesehatan buruk. Ia bersaksi bahwa tentara menyita dan mengubur teleponnya. Sementara itu, korban lain dipaksa membantu di pos pemeriksaan militer.
Pasukan Pertahanan Israel menyebut wilayah itu sebagai zona pertempuran aktif. Mereka menyatakan pasukan menghadapi ancaman keamanan saat kejadian. Selain itu, mereka mengklaim satu kendaraan mungkin terkait Hamas.
Namun, para korban selamat dan organisasi kemanusiaan membantah klaim tersebut. Mereka menegaskan konvoi hanya membawa tim medis. Mereka juga menyatakan tidak ada aktivitas militer di kendaraan.
Israel meluncurkan penyelidikan internal pada April 2025. Hasilnya menyebut adanya kegagalan profesional. Namun, laporan itu menolak tuduhan pembunuhan sengaja dan tindakan kriminal.
Penyelidikan tersebut juga tidak merekomendasikan tindakan hukum terhadap unit yang terlibat. Keputusan itu memicu kritik dari berbagai pihak internasional.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah organisasi hak asasi manusia mengecam serangan tersebut. Mereka menilai insiden itu melanggar perlindungan terhadap tenaga medis.
Sejak Oktober 2023, ratusan tenaga medis dan darurat tewas atau terluka di Gaza. Konflik meningkat setelah Hamas menyerang Israel. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 250 orang.
Sebagai tanggapan, Pasukan Pertahanan Israel melancarkan operasi militer besar di Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 72.000 orang tewas sejak perang dimulai.
Insiden di Rafah kini menambah daftar panjang korban tenaga medis. Laporan independen tersebut kembali menyoroti risiko besar yang dihadapi pekerja kemanusiaan di wilayah konflik.