Banner sumsel

Kuasai Saham Freeport 51 %, Ternyata Indonesia Hanya Dapat Benefit Ekonomi Segini

JAKARTA,koranindonesia.Id- Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, beberkan kronologi pembelian saham Freeport sebesar 51 persen oleh BUMN kecil sekelas Inalum. Paket deal saham itu tidak sepenuhnya menguntungkan Indonesia.

Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dihubungi wartawan, Kamis (21/2/2019), tidak membantah jika pembelian saham freeport itu bisa menjadi skandal besar dikemudian hari.

“Saya kan sudah pernah mengatakan hal itu. Kalau pemerintah tidak transparan dari awal tentang bagaimana uang pinjaman didapatkan yang menyebabkan tiba-tiba sebuah BUMN kecil sekelas Inalum menggelembung menjadi perusahaan raksasa yang mampu membeli 51 persen saham freeport,” katanya.

Menurut politisi dari PKS itu, satu upaya yang sebenarnya ajaib, yang semua pihak tentu mengetahui bahwa ternyata Inalum punya pinjaman yang sangat besar sekali, dan pinjaman itu bagian dari bobolnya sistem peminjaman.

“Pinjam meminjam di negara kita ini, ketika hutang kemudian ditumpuk melalui BUMN. Padahal, tidak pernah BUMN kita ini menumpuk hutang sebesar yang kita punya sekarang,” ucapnya.

Jadi sekali lagi, lanjut Fahri, Sudirman Said siap-siap saja nanti menjadi nara sumber, kalau tiba-tiba di masa depan ada investigasi yang membuat skandal ini bisa terbuka.

“Dan tentunya, pak Jokowi bisa menjadi pihak yang akan menjadi bulan-bulanan. Sekali lagi, ini lah pentingnya keterbukaan,” pungkas Anggota DPR dari Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) itu.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, bekas Menteri ESDM Sudirman Said mengungkapkan kronologis dikuasainya saham Freeport Indonesia sebesar 51 persen. Dia menyatakan paket deal saham itu tak sepenuhnya menguntungkan Indonesia.

Bermula pada 7 Oktober 2015, saat itu Sudirman yang masih menjabat sebagai Menteri ESDM dipanggil mendadak oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Ketika dia sampai di Istana, dia diberi tahu oleh asisten Presiden bahwa tidak ada pertemuan, namun dia tetap diperintahkan menghadap Presiden.

Singkat cerita, sesampainya dia di ruangan kerja Jokowi, dia melihat ada James atau Jim Moffet, yang kala itu menjabat sebagai Executive Chairman Freeport McMoRan, sedang mengadakan pertemuan dengan Jokowi. Di sana Sudirman diperintahkan Jokowi untuk membuat draft mengenai kesepakatan pembelian saham.

“Dan tidak panjang lebar, Presiden hanya katakan ‘tolong siapkan surat, seperti yang dibutuhkan, kira-kira kita ini ingin menjaga keberlangsungan investasi lah’, nanti dibicarakan setelah pertemuan ini, ‘baik pak Presiden’. Maka keluarlah saya bersama Pak Jim Moffet ke suatu tempat,” ujar Sudirman di acara bedah buku bertajuk ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan’ di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019) kemarin.

Sesampainya di sebuah tempat, Moffet menyodorkan draf kesepakatan. Menurut Sudirman, draf itu tidak menguntungkan Indonesia.

“Pak Moffet sodorkan draft, kira-kira surat yang dibutuhkan seperti itu. Saya bilang sama Moffet ‘this is not the way i do business, kalau saya ikuti draft-mu, maka yang akan ada Presiden negara didikte korporasi’. Saya tidak lakukan itu, ‘yout tell me what we have been discussed with president’, dan saya akan buat draft yang lindungi kepentingan republik’,” kata Sudirman seraya menirukan perkataannya kepada Moffet.

Kemudian setelah pertemuan dengan Moffet, Sudirman langsung menyampaikan draft tersebut kepada Jokowi. Menurut Sudirman, saat itu Jokowi disebut langsung menyetujui, padahal menurut Sudirman draf tersebut hanya menguntungkan pihak Freeport bukan Indonesia.

“Bapak dan Ibu tahu komentarnya pak presiden apa? dia mengatakan ‘lho kok begini saja sudah mau? Kalau mau lebih kuat lagi sebetulnya diberi saja’. Jadi mungkin saja ketika pagi itu, saya nggak ikut diskusi, saya datang tulis surat, dan saya nggak tahu sebelum pertemuan itu ada siapa. Jadi saya disuruh nulis surat dengan level ini aman, nggak merusak. Tapi pak Presiden bilang ‘kok begini nggak mau’, jadi mungkin tanggal 7 itu mungkin sudah ada komitmen yang lebih kuat, yang dikatakan surat itu perkuat posisi mereka, dan lemahkan posisi kita,” ungkap Sudirman.

Pria yang kini menjadi Direktur Materi dan Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ini  menilai pertemuan antara Jokowi-Moffet itu bukanlah pertemuan normal layaknya pertemuan biasa. Sebab, setelah draft tersebut disetujui Jokowi, angka saham Amerika naik.

“Dan saya paham itu bukan pertemuan normal. Tetapi dari segi hukum saya rasa dapat proteksi dari kepala biro hukum saya dan sekjen. Itulah cerita surat itu,” tutur Sudirman.

Terakhir, Caleg Gerindra ini mengatakan baru-baru ini Freeport merilis catatan terkait saham Freeport Indonesia 51 persen. Dia mengatakan Indonesia menguasai mayoritas saham Freeport tetapi mereka terima 82 persen benefit ekonomi.

“Freeport menumpahkan saham 51 persen kepada pihak Indonesia. Tapi kemudian ada catatan gini, meskipun mayoritas saham di Indonesia, tetapi, dengan perjanjian yang sudah ada, maka kontrol manajemen operasional tetap dipegang oleh Freeport McMoran. Kemudian sampai dengan 22 perjanjian itu disebutkan, Freeport McMoran akan terima 82 persen benefit ekonomic pacific yang ada. Jadi Indonesia miliki 51 saham, tapi 82 persen benefit ekonomic ke mereka,” kata Sudirman Said.(Mar)

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.