Banner sumsel

KontraS Desak Kapolda Sumsel Usut Tuntas Kasus Salah Tembak Oknum Polsek Pemulutan

PALEMBANG, koranindonesia.id – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) melalui surat terbuka dengan Nomor 425/SK-KontraS/X/20I8 tertanggal Kamis (25/20/2018) mendesak Kapolda Sumatra Selatan (Sumsel) Irjen Pol Zulkarnain Adinegara untuk mengusut tuntas kasus peluru nyasar anggota Polsek Pemulutan, terhadap warga sipil di Kota Palembang.

Surat yang ditandatangani Kepala Divisi Pembelaan Hak Asasi Manusia KontraS, Arif Nur Fikri tersebut mengungkapkan, KontraS meminta Kapolda Sumsel untuk segera melakukan tindakan hukum atas dugaan penembakan oleh anggota Polsek Pamulutan terhadap Ariansyah (23), seorang warga sipil di Kota Palembang.

Dari informasi yang didapatkan KontraS, peristiwa tersebut terjadi pada Senin 8 Oktober 2018, dinihari. Bermula ketika tim Polsek Pamulutan yang dipimpin AKP Zaldi melakukan upaya penangkapan terduga pelaku pembunuhan berinisial “S” di daerah Kelurahan 7 Ulu, Palembang.

Saat upaya penangkapan akan dilakukan, terduga pelaku melarikan diri dan salah satu anggota Polsek Pemulutan memberi tembakan peringatan ke udara. Korban Ariansyah yang kebetulan berada di sekitar lokasi, diduga kuat tertembak dari peluru salah satu anggota tim Polsek Pemulutan dan mengakibatkan korban meninggal dunia.

Ditambahkannya, perihal peristiwa tersebut, KontraS menilai ada dugaan pelanggaran Pasal 359 KUHP yang menyatakan, Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.

“Selain itu, kami juga menduga telah terjadi adanya pelanggaran peraturan intemal Kepolisian, antara lain, Pelanggaran terhadap Standard Operational Procedure (SOP) Penangkapan

Bareskrim Polri angka 6 (enam); pelanggaran atas Pasal 3 huruf (c) Perkapolri No 1/2009; dan pelanggaran atas Pasal 15 ayat (3) Perkapolri No 1/2009,” paparnya melalui siaran pers tertulis yang diterima koranindonesia.id, Kamis (25/20/2018).

Disebutkannya, bahwa Ariansyah bukanlah korban tunggal akibat dari penyalahgunaan senjata api yang dilakukan oleh anggota Polri, Kontras mencatat sejak 3 – 12 Juli 2018, khususnya di Provinsi Sumsel, terdapat 10 orang tewas atas penggunaan senjata api yang tidak proporsional oleh anggota Polri.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara. (FOTO/DOK)

Kondisi ini menunjukkan bahwa, penyalahgunaan kekuatan secara berlebihan dan tidak profesionalnya anggota Polisi di Sumsel menjadi persoalan serius yang harus diperhatikan oleh Polda Sumsel.

“Oleh karenanya, kami mendesak, Kapolda Sumsel melakukan penyidikan secara objektif dan menyeluruh terkait dengan peristiwa yang terjadi di daerah kelurahan 7 Ulu, Palembang; Polri bertanggung jawab memberikan pemulihan dan ganti kerugian kepada keluarga korban; Kapolri, c/q. Kapolda Sumatera Selatan harus melakukan pemeriksaan dan audit senjata api dan amunisi secara berkala yang digunakan oleh anggotanya di lapangan sebagai bentuk tindakan preventif agar peristiwa serupa tidak terulang kembali,” pungkasnya.

Sekadar mengingatkan, Ariansyah Saleh (23) tewas dengan kondisi leher bagian kiri ditembus peluru. Juru parkir (Jukir) ini diduga adalah korban salah tembak saat anggota Polsek Pemulutan melakukan penggerebekan, di Jalan KH Azhari belakang Bakso ‘Juve’, 7 Ulu, Palembang, Senin (11/10/2018) pukul 04.00 WIB.

Dengan kondisi tertelungkup, korban dievakuasi ke RS Bhayangkara untuk dilakukan visum et repertum. Persitiwa ini langsung dilaporkan paman korban, Muhammad Soleh Ahmad (66) warga Jalan KH Azhari, Lrg Al Kausar, RT 02/01, Kelurahan 7 Ulu, Palembang, ke SPKT Polresta Palembang, Senin (11/10) pukul 06.00 WIB.

(ded/rel)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.