Banner sumsel

Kiai Muara Ogan Berdakwah sambil Bertindak Nyata  

Kumandang suara adzan Ashar bersautan dengan gemercik air sungai yang ada disamping Masjid terdengar jelas. Suasana bersahaja dari beberapa orang yang lalu lalang menuju ke Masjid menambah kesan mendalam saat berada di salah satu Masjid bersejarah dan tua di kota Palembang, yaitu Masjid Kiai Muara Ogan yang terletak di Kecamatan Kertapati, Palembang pekan lalu.

Membicarakan sejarah Islam di kota Palembang tidak akan lepas dari peran besar yang dilakukan oleh  Masagus K.H. Abdul Hamid bin Masagus K.H. Mahmud atau Kiai Muara Ogan. Beliau lahir sekitar awal tahun 1800-an dan meninggal pada tahun 1901. Dijuluki Kiai Muara Ogan karena beliau berdakwah melalui jalur sungai ataupun laut dan beliau mendirikan Masjid di pinggir sungai Ogan yang bermuara pada sungai Musi. Selain Masjid Kiai Muara Ogan, beliau juga mendirikan Masjid Lawang Kidul di Bom Baru, Palembang

Ust Mgs Abdul Rozak pengurus Masjid mengatakan Kiai Muara Ogan telah melakukan dakwahnya semenjak usia remaja.

“Nama beliau tidak hanya terdengar di Palembang maupun Indonesia, namun nama beliau terdengar sampai tanah suci Mekkah, karena beliau memiliki sanak keluarga yang tinggal disana,”katanya.

Ditambahkan Rozak, jika Kiai Muara Ogan berdakwah dengan cara bil hal, yang artinya beliau berdakwah Islam dengan memberikan tindakan nyata atau memberikan contoh secara langsung. Dalam dakwahnya beliau banyak mengajarkan tentang sadaqah dan berwakaf dibarengi dengan tindakan nyata beliau yaitu dengan menyisihkan hartanya untuk membangun Masjid, hal tersebut membuat dakwah beliau begitu melekat di masyarakat.

“Kiai Muara Ogan adalah pengusaha kayu yang sukses, tapi sebagian besar hartanya beliau infaqkan untuk kesejahteraan umat, artinya beliau mengajarkan hidup harus kerja keras demi manfaat orang banyak”,ujar Rozak.

Usia dari Masjid ini diperkirakan telah mencapai lebih dari seratus tahun dan telah melalui sekitar 5 sampai 10 kali renovasi untuk menjaga keindahan masjiid “Masjid ini didirikan sekitar tahun 1800-an sehingga kemungkinan usianya lebih dari 100 tahun dan mungkin telah dilakukan renovasi 5 kali atau bahkan 10 kali” ujar Ust Mgs Abdul Rozak.

Walaupun telah mengalami banyak renovasi bentuk dan tiang-tiang Masjid Kiai Muara Ogan masih dipertahankan dari bentuk aslinya. Renovasi hanya untuk memperluas Masjid agar dapat menampung jemaah lebih banyak.

Masjid Kiai Muara Ogan sering dikunjungi peziarah dari dalam kota maupun luar kota. Diperkirakan setiap harinya ada ratusan orang yang hadir untuk berziarah ke makam Kiai Muara Ogan untuk berdoa dan untuk melakukan Shalat berjamaah di Masjid tersebut. Dan pengunjung bisa mencapai belasan ribu pada saat pelaksanaan haul yang dirayakan setiap tahunnya untuk memperingati wafatnya Kiai Muara Ogan (dan baru saja dilaksanakan puncak haul yang ke-117 di awal bulan lalu).

“Kiai Muara Ogan adalah ulama besar di Sumatera Selatan jadi saya ingin lihat langsung makam beliau untuk berziarah dan menunaikan shalat berjamaah di Masjid yang dibangun oleh beliau” ujar Dwi Cahyono peziarah asal Banyuasin.

Banyaknya peziarah yang mengunjungi Masjid ini  berdampak pada pergerakan ekonomi ummat di sekitar Masjid Kiai Merogan. Meilita Dwi Putri warga sekitar mengaku masyarakat sekitar dapat mencari penghasilan tambahan dengan berjualan.

“Lumayan buat tambahan malah kalau saat perayaan haul pendapatan masyarakat dapat meningkat berkali-kali lipat dari hari biasa,”katanya.

Keturunan dari Kiai Muara Ogan saat ini telah mencapai keturunan yang ke-4 dan ke-5. Kepengurusan dari Masjid Kiai Muara Ogan dipimpin langsung oleh keturunannya yaitu Mgs. H. Memet Ahmad  didampingi oleh Ust. Mgs. H. A. Fauzan Yayan, sebagai sekretaris Masjid, dan Ismail Effendi  sebagai bendahara Masjid.

Peran besar Kiai Muara Ogan dalam sejarah Islam di Sumsel tidak akan termakan zaman karena beliau adalah ulama besar yang sangat dicintai dan akan selalu diingat oleh semua umat muslim yang ada di Indonesia khususnya di kota Palembang.

 

 

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.