Bhintan Shalawat

Khawatir Bangkitnya Orba, Jakmus Buka Pengetahuan Milenial dengan Diskusi Publik

SOLO, koranindonesia.id – Bangkitnya orde baru (Orba) dengan maraknya poster bergambar Presiden ke-2, Soeharto dengan tulisan “Piye Kabare, Penak Jamanku To?” dikhawatirkan oleh Jaringan Alumni Kampus Muhammadiyah (Jakmuh). Poster tersebut dapat mempengaruhi pemikiran milenial lantaran berpikir, bahwa dulu ada jaman dimana lebih baik dari saat ini.

Ketua Pelaksana Jakmuh, Agus Riyanto mengatakan, ada kelompok yang sengaja ingin membelokkan fakta sejarah Orba. Dimana, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto kala itu terdapat sikap represive terhadap kelompok yang berseberangan dengan pemerintah. Sikap semacam itu, kerapkali dilakukan terhadap kelompok aktivis mahasiswa. Dimana, kebebasan berpendapat akan dibungkam oleh penguasa.

“Yang kami khawatirkan, ada pembelokan sejarah di pemikiran milenial saat ini. Mereka hanya melihat sebatas poster “enak jamanku to?”. Tapi yang terjadi apa? kebebasan berpendapat dibungkam. Bahkan kerapkali sikap represiv ditunjukkan selama pemerintahan Soeharto,” kata Agus, Kamis (14/3/2019).

Untuk meluruskan fakta tentang Orba tersebut, pihaknya mengadakan kegiatan “Diskusi Publik dan Deklarasi Bahaya Laten Orde Baru (Orba)”. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, diantaranya Junaidi Edy Purwanto alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang saat ini mengajar sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Solo, Kuat Hermawan Santoso alumni mahasiswa pergerakan UMS 1998 dan Muh Fahrizal Aulia Presiden Mahasiswa UMS 2006-2007.

“Mereka sengaja kami hadirkan, untuk menceritakan sebelum, saat dan sesudah pascatahun ’98. Seperti apa perjuangan mereka hingga perjuangan yang dilakukan untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah,” ungkap Agus.

Alumnus UMS angkatan 2006 itu menyebut, masa Orba tidak sebagus tagline yang viral beredar di media sosial belum lama ini. Banyak sekali pengorbanan yang terpaksa dibayarkan untuk mengakhiri masa tersebut. “Kalau kita kembali lagi ke zaman itu, otomatis demokrasi kita mundur kebelakang. Para aktivis 98 telah berjuang dan sampai pada kebebasan demokrasi saat ini,” katanya.

Disinggung mengenai Kelompok Jakmus tersebut, Agus mengaku, jika pihaknya tidak masuk dalam kelembagaan Muhammadiyah. Mereka merupakan jaringan dari alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Diakhir kegiatan, mereka berkomitmen bahwa ratusan anggota Jakmuh yang tersebar di Kawasan Jawa Tengah mendukung Paslon 01, Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin. Pasalnya, hanya merekalah pasangan Capres-Cawapres yang sama sekali tidak terpapar dengan cara-cara Orba.
(ali)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.