Banner sumsel

Ketika Rasa Sosial Kita Kian Tipis

Oleh Santika Ariska(Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang)

Beberapa hari lalu ada satu peristiwa  yang begitu jelas  di depan mata dan nyata itu ada, dimana seorang ibu dan anak kecilnya mengalami kecelakaan yang membuat mereka terluka. Mereka hanya bisa duduk dengan mata sayup menantikan pertolongan datang, padahal disana banyak sekali manusia namun hanya menjadi penonton bahkan penikmat, malah sebagian asik mengabadikan moment itu untuk keperluan sosial media mereka, miris. Kemana jiwa sosial kita saat ini, tak ada  yang tergerak untuk membantu keduanya?

Banyak alasan yang diungkap, mengapa mereka tidak tergerak untuk menolong atau peduli kejadian,  “saya tidak mau menjadi tersangka nantinya” , dan “saya juga tidak mau berurusan dengan pihak kepolisin nantinya”, ujar para saksi mata. Itu sebagian kata-kata yang terlontar saat mereka menyaksikan suatu peristiwa kejahatan atau lainnya yang mereka temui. Boleh jadi pendapat mereka benar tetapi sikap mereka yang membuat semua menjadi salah.

Inilah yang dinamakan fenomena diam, dalam psikologi sosial, fenomena ini disebut bystander effect. Mereka tak mau dianggap mencampuri urusan orang lain. Di Polandia, ada idiom terkenal, ”not my circus, not my monkey”. Itu bukan urusan saya. Manusia seakan diminta menutup mata dan mulutnya, untuk memberikan pertolongan, manusia lebih memlih bungkam dari pada menggulurkan tanganya. Inilah yang terjadi pada kita saat ini, menggubur dalam  rasa kepedulian  padahal banyak sekali orang yang butuh pertolongan, kasus diatas hanya bagian kecil dari ketidak pedulian kita.

Menurut Ulfa Atikasari (kompasiana,2016), bystander effect dapat menyerang siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Seseorang akan menolong orang lain yang membutuhkan bantuan jika tidak ada orang lain disekitarnya. Sebaliknya, jika ada banyak saksi mata, seseorang cenderung mempunyai keinginan yang lebih kecil untuk menolong. Hal ini disebabkan karena ia merasa bukan satu-satunya orang yang ada ditempat tersebut, juga merasa banyak orang disekelilingnya yang bisa membantu.

Perilaku prososial memiliki kaitan yang erat dengan komunikasi interpersonal, karena perilaku prososial dipengaruhi oleh pola komunikasi interpersonal.  Lebih jauh Ulfa mengatakan  jika dalam komunikasi interpersonal, faktor empati mempengaruhi keefektifan dalam komunikasi interpersonal. Empati juga merupakan faktor yang mendasari seseorang untuk bertindak prososial. Komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila didalamnya telah timbul rasa empati. Demikian pula dengan prososial, empati sebagai kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain mendorong orang tersebut melakukan tindak menolong.

Boleh jadi kasus yang terjadi di atas dimana kecelakaan seorang ibu dan anaknya, merupakan fenomena jamak bystander effect. Orang-orang yang melewati tempat kejadian itu jarang ada yang memberhentikan kendaraannya untuk sekedar menolong. Mereka lebih memilih menonton peristiwa itu sambil lalu lalang. Hal ini terjadi karena mereka merasa banyak orang yang melihat kejadian tersebut, sehingga mereka merasa tidak perlu menolong.

Fenomena ini mestinya tidak terjadi, apalagi di Indonesia, karena bangsa ini dikenal dengan sikap gotong royong, sikap ini  dapat meminimalkan bystander effect, apalagi perilaku menolong sudah merupakan kelebihan manusia sebagai mahluk sosial. Namun, modernisasi mengerus semuanya itu secara perlahan.

Nah, mulai hari ini mulai detik ini buka mata kita, buka mulut kita dan mulailah menggulurkan tangan untuk mereka yang menjerit meminta pertolongan. Ini bukan tentang ego dan gengsi tapi ini tentang kita yang hidup dengan rasa peduli. “membantu tidak akan pernah rugi tapi membiarkan kejahatan terjadi adalah tanda hilangnya rasa peduli” mari timbulkan empati dan bangun komunikasi personal kita lebih baik lagi agar rasa sosial itu tak makin tipis.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.