Banner Pemprov 2020
Muba 21 Juli

Kerjasama Regional Justru Bikin Defisit Keuangan Negara

 

JAKARTA, koranindonesia.id – Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, menilai
pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan mungkin 2,8% bahwa sampai 3%, menunjukkan gejala-gejala kurang baik dan kurang menggembirakan bagi Indonesia.

“Efek dari pada perang dagang China yang akibatnya juga akan berimbas kepada negara kita,” kata Darmadi dalam acara Dialektika Demokrasi “Mampukah Indonesia Menghadapi Ancaman Resesi Dunia 2020?” di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (5/12/2019).
Karenanya politisi PDIP ini berharap ini bisa cepat bisa diantisipasi oleh pemerintahan Indonesia.

“Sebenarnya kita harus lebih melihat apa yang harus dikerjakan oleh pemerintah Indonesia saat ini. Karena pertumbuhan ekonomi kita juga ternyata juga cukup berat sampai saat ini,” paparnya.

Darmadi berpendapat, pertama tidak mengandalkan pada market Indonesia sendiri. “Tentu ini juga bukan satu pekerjaan yang mudah. Apalagi di DPR terakhir terakhir ini, kita akan banyak membahas tentang kerjasama ekonomi,” urainya.

Contoh sekarang yang sedang terjadi Indonesia – Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). “Dari kajian-kajian kita sudah lihat, bahwa sebetulnya ini akan menambah banyak devisit buat kita. Dimana kemampuan ekspor Australia ke Indonesia jauh lebih besar dibanding kemampuan ekspor Indonesia ke Australia,”.
Belum lagi dihitung mengenai pengaruh tarif terhadap kinerja ekspor. Setelah diteliti ternyata tidak ada pengaruh. Artinya kalau tarif diturunkan Indonesia ekpornya ke Australia tidak akan meningkat juga. Karena lebih banyak hambatan non tarif.

“Artinya kesiapan eksportir kita untuk menembus Australia, itu juga untuk menembus badan karantina Australi, SPS nya dan sebagainya itu juga kurang begitu bisa memadai,” tukas Darmadi.

Jadi, lanjut Darmadi, untuk mengantisipasinya pemerintah harus betu-betul membatasi impor. “Industri-industri yang kinerja yang bisa diproduksi dalam negeri mestinya jangan di terbitkan izin impornya, itu dari sisi impor,”.
Kemudian kinerja ekspor harus diperbaiki. Karena itu langsung dengan pertumbuhan ekonomi. “Tapi apa yang terjadi?. Ujung tombak ekspor kita, negara juga tumpul di luar negeri. Indonesian Trade Promotion Center, tapi tidak berkembang dengan baik.

“Kita banyak melakukan kunjungan. Ternyata Indonesian Trade Promotion Center yang menjadi ujung tombak daripada pemerintah kita di luar negeri ternyata tidak maksimal,” tandasnya. (Mar)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.