Banner Pemprov 2020
kopri

Kemendikbud Luncurkan Merdeka Belajar Episode Enam

JAKARTA, koranindonesia.id – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar episode keenam yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo di Jakarta, Selasa.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan Kemendikbud melalui berbagai inisiatif Merdeka belajar menjabarkan arahan Presiden untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul yang akan mengantarkan Indonesia pada kemajuan.

“Di zaman yang serba dinamis ini, kreativitas, inovasi dan daya saing merupakan lompatan kemajuan yang harus dipastikan. Terutama karena mau tidak mau kita harus memperhitungkan tren global yaitu kemajuan teknologi, pergeseran sosiokultural, perubahan lingkungan hidup, dan perbedaan dunia masa kerja masa depan,” ujar Nadiem.

Untuk menjawab tantangan tersebut pada jenjang pendidikan tinggi, Kemendikbud telah meluncurkan Merdeka belajar episode dua yakni Kampus Merdeka.

“Tujuan utamanya untuk semakin “mengawinkan” perguruan tinggi dengan dunia kerja, yang mana lebih banyak mahasiswa didorong turun ke masyarakat ke luar kampus, mengenal dunia kerja. Lebih banyak dosen didorong terjun ke dunia profesional untuk memahami dan turut memberi solusi bagi permasalahan di masyarakat, dan juga lebih banyak profesional dari dunia kerja masuk ke perguruan tinggi untuk membagikan pengalamannya,” jelas dia.

Dia menambahkan sebagai upaya pengembangan Merdeka Belajar di lingkungan pendidikan tinggi terobosan pendanaan yang fundamental untuk mengakselerasi tercapainya Indonesia maju pun telah disiapkan.

“Dapat saya laporkan ada tiga program transformasi pendanaan yang akan kami sampaikan pada hari ini. Pertama, kinerja perguruan tinggi difokuskan menjadi delapan. Sebanyak delapan kinerja utama yang relevan untuk melakukan perubahan sistem pendidikan tinggi. Dengan tujuan menyiapkan mahasiswa menjadi yang unggul dan riset dosen yang lebih relevan untuk pembangunan Indonesia,” terang dia.

Ke depan pendanaan perguruan tinggi akan diberikan dalam bentuk biaya operasional yang mendorong tercapai hal tersebut. Dengan sistem insentif yang sesuai dengan capaian tersebut.

Kedua, untuk mengakselerasi kontribusi industri bagi pengembangan pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi maka dikembangkan program “matching fund” untuk mendampingi dan memadankan kontribusi industri terhadap perguruan tinggi.

“Kalau industri, kalau mitra berkontribusi Kemendikbud juga melakukan “matching fund” untuk membantu kontribusi tersebut, ” katanya.

Ketiga, pendanaan “competitive fund” untuk mendorong inovasi dan terobosan-terobosan program pendidikan tinggi yang berorientasi pada masa depan.

“Ini adalah “competitive fund” untuk mendorong misi diferensiasi setiap universitas menemukan jati dirinya, menemukan spesialisasinya, dan untuk maju agar kita siap menghadapi masa depan,” jelas Nadiem.

(ant)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.