Bhintan Shalawat

Kadin Berharap Pemerintah Mengkaji Besaran Bea Masuk Impor Teh

JAKARTA,koranindonesia.Id-Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengharapkan pemerintah mengkaji kembali besaran Bea Masuk (BM) impor teh berkualitas rendah sebagai upaya mendorong industri teh nasional di Indonesia.

Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani mengatakan kebijakan bea masuk bagi teh yang saat ini 20 persen mungkin perlu ditinjau kembali dan masih memungkinkan bisa ditingkatkan bea masuknya.

Dijelaskannya Kadin juga meminta pemerintah mempertimbangkan penerapan persyaratan non tariff barriers seperti halal dan wajib SNI untuk mengurangi teh impor berkualitas rendah.

“Teh impor berkualitas rendah banyak digunakan sebagai bahan campuran dengan teh Indonesia untuk kemudian dipasarkan baik di dalam maupun luar negeri,” ungkapnya dalam siaran pers yang diterima koranindonesia.id, Kamis (14/03/2019).

Ditambahkannya hal tersebut dapat menurunkan kualitas teh Indonesia yang selama ini merupakan teh terbaik dunia. Selain menurunkan kualitas, teh impor juga berdampak pada perkembangan industri teh Indonesia.

“Jadi kami harus kaji betul, karena maraknya impor ini dampaknya akan terasa kepada para pelaku agribisnis perkebunan teh. Bukan hanya perkebunan rakyat, tapi juga perkebunan milik negara dan swasta,” terangnya.

Dipaparkannya secara ekonomi, komoditas hasil perkebunan ini merupakan salah satu unggulan. Perkebunan teh rakyat di Indonesia bahkan disebut mencapai 46 persen dari total perkebunan teh yang ada sehingga produktivitasnya terus digenjot.

“Ekspor teh Indonesia ke Eropa masih terkendala dengan ketatnya persyaratan, misalnya dengan pengenaan MRL (batas maksimum residu) tertentu mengenai kandungan anthraquinon yang harus 0,02 persen. Perlu diperkuat lobi dengan Eropa,”pungkasnya.

Kadin juga berharap pemerintah dapat mempertimbangkan untuk mengalokasikan kredit murah dengan prosedur yang mudah, terutama untuk perbaikan kebun dan pemeliharaan tanaman, penggantian tanaman tua dengan klon-klon teh unggul.

“yang produktivitasnya bisa mencapai 2,5-5 ton/hektare/tahun, serta modernisasi atau penggantian mesin-mesin tua,” tandasnya. (Erw)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.