Banner sumsel

Kades “Malas” Ikuti Giat Stunting yang Dilaksanakan Dinkes

KAYUAGUNG, koranindonesia.id – Kegiatan stunting tingkat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan (Sumsel)  tahun 2019 disorot, pasalnya para peserta kurang optimal,, bahkan para kades cenderung enggan mengikuti kegiatan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan (Dinkes) OKI tersebut.
” Kita sangat prihatin, kegiatan stunting tingkat Kabupaten OKI ini, menggunakan anggaran cukup besar dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dan seharusnya menjadi media sosialisasi yang efektif  bagi seluruh stakeholder. Tapi justru para kades yang menjadi peserta dalam kegiatan tersebut cenderung malas mengikuti hingga akhir acara, yang diselenggarakan Dinas Kesehatan (Dinkes) OKI tersebut,”  ungkap Ketua Pemantauan Kebijakan Badan Publik OKi, Alifiah, Rabu (10/7/2019).
Menurutnya, pelaksanaan rembuk stunting tingkat kabupaten OKI tahun 2019 yang di buka Wakil Bupati OKI, H Djakfar Shodiq di gedung kesenian pada (9/7/2019) telah gagal, karena menurutnya sasaran kegiatan seharusnya tersampaikan dengan para lintas sektor yang hadir. Salah satunya kades.
“Awalnya banyak para kades yang hadir  pada acara pembukaan, tetapi saat  materi disampaikan justru peserta minggat (keluar ruangan,red). Dengan tidak menghadiri sampai habis dikhawatirkan peserta tidak paham strategi apa yang akan dilakukan untuk mensukseskan program intervensi stunting di desa masing-masing,”  tegasnya.
Mulanya,  para kepala desa hadir pada acara pembukaan. Namun usai pembukaan dilanjutkan sesi pembicaraan materi yang disampaikan oleh Kepala Bappeda OKI, Makruf CM, SIP seluruh kepala desa tidak lagi kembali datang ke acara tersebut. Hanya terlihat satu Kepala Desa yang masih mengikuti kegiatan itu. Yakni Kades Menang Raya, Kecamatan Pedamaran OKI, Suparedy, SPd.
“Panitia kurang jeli dan kurang optimal, sehingga kegiatan yang mengeluarkan dana ratusan juta ini, harusnya bisa bermanfaat dengan mendapatkan pengetahuan tentang stunting. Dan cara mencegahnya. Tapi sekarang jadi sia-sia saja,,” ujarnya.
Lanjut dia, seharusnya  pihak Dikes harus lebih aktif  mengingatkan para kades untuk kembali lagi, mengikuti materi sampai selesai. Agar program ini bisa sukses dan dipahami bukan hanya pimpinan atau pegawai puskesmas saja tapi para kades juga harusnya paham.
Kepala Dinas Kesehatan OKI, HM Lubis, SKM MKes, dalam acara rembuk stunting tingkat kabupaten OKI tahun 2019 melaporkan kegiatan ini diikuti 500 undangan dari berbagai lintas sektor. Melalui kegiatan ini harapan kedepannya OKI bisa bebas dari stunting.
Dikatakan sebagian masyarakat belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek dari standar usianya.
Penurunan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk memghindari dampak jangka panjang yang merugikan, seperti terhambatnya tumbuh kembang anak.
Riset kesehatan dasar (riskesdas) 2013 memperkirakan hampir 9 juta anak di Indonesia atau sepertiga dari seluruh anak berusia di bawah lima tahun mengalami gagal tumbuh (stunting).
“Saat ini ada lima (5) pilar penting yang harus dilakukan agar semua program stunting bisa sukses berjalan, yaitu komitmen, kampanye, konvergensi program, akses pangan bergizi dan monitoring program,” jelasnya.
Menurut Lubis,, aksi 1 tahun 2018 dan 2019, Kabupaten OKI telah melakukan analisis situasi, terutama di 10 desa fokus stunting, yakni Desa Jambu Ilir, Tanjung Merindu, Tanjung Beringin, Sukarami, Muara Telang, Benawa, Sugih Waras, Tanjung Sari 1, Sukadamai,” jelasnya.
Kemudian analisis situasi juga dilakukan di seluruh desa di Kabupaten OKI, sehingga didapatkan desa-desa baru yang berpotensi menjadi desa fokus di tahun 2020. Dengan kerjasama dan dukungan dari berbagai sektor, diharapkan angka stunting di Kabupaten OKI dapat diturunkan, bahkan menjadikan Kabupaten OKI bebas stunting. (dri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.