Banner Pemprov 17 Agustus

Jawaban Para Capres Terkait Ideologi Pancasila Dinilai Belum Memuaskan

JAKARTA, koranindonesia.id – Terkait salah satu isu yang dibahas dalam debat Capres ke empat, yakni perihal ideologi Pancasila.

Pertanyaan yang muncul dalam debat adalah bagaimana menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai Pancasila, kepada generasi penerus dengan tidak mengutamakan pendekatan indoktrinasi agar lebih mudah diterima dan diaktualisasikan.

Satriwan Salim Wasekjen FSGI mengatakan setelah mendengar jawaban dari masing-masing Capres, mereka bersepakat bahwa cara untuk menanamkan ideologi Pancasila kepada generasi bangsa yaitu, dengan memasukkan Pancasila melalui pendidikan (kurikulum) atau edukasi bukan indoktrinasi.

Sampai di sini FSGI setuju dengan jawaban tersebut, tetapi yang menjadi soal sesungguhnya ideologi Pancasila sudah diberikan dan ditanamkan, kepada generasi bangsa melalui pendidikan (kurikulum) selama ini, sejak SD-Perguruan Tinggi sebagai salah satu subjek mata pelajaran yang berdiri sendiri.

Artinya, jawaban kedua Capres yang akan memasukkan ideologi Pancasila melalui kurikulum pendidikan di sekolah sampai perguruan tinggi adalah jawaban yang sudah terealisasi. Jadi tampak sekali jika tidak ada strategi baru atau tawaran solusi yang mengandung unsur kreatif dari para Capres.

“Pancasila sebagai ideologi bangsa sudah dimasukkan ke dalam kurikulum selama ini setidaknya dengan; 1) menjadi mata pelajaran sendiri bernama PPKn/PKn di sekolah, ini lazim disebut program kurikuler, 2) melalui kegiatan ekstrakurikuler, dan 3) melalui proses pembiasaan yang dibangun menjadi budaya sekolah. Inilah tiga (3) langkah yang sedang dilakukan saat ini dalam dunia pendidikan dalam rangka menanamkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila,” ungkapnya dalam siaran pers yang diterima, Minggu (31/3/2019).

Namun, yang menjadi kelemahan dalam kurikulum Pendidikan Pancasila saat ini di sekolah dan perguruan tinggi adalah tidak menariknya metode penyampaian (delivery) Pendidikan Pancasila ini oleh guru atau dosen. Penyampaian Pancasila oleh guru dan dosen masih didominasi dengan ceramah satu arah, lanjut tanya jawab, dan paling canggih presentasi.

“Oleh karena itu kami meminta pemerintah mesti mengupgrade para guru dan dosen PPKn/PKn melalui pelatihan-pelatihan yang berkualitas; berbobot, bermanfaat, berdampak, dan berkelanjutan, serta evaluatif. Inilah yang saat ini masih minim didapatkan oleh para pegiat Pancasila di pendidikan formal,” imbuhnya.

Sehingga tidak heran jika ditanya kepada siswa/mahasiswa ketika usai mengikuti pelajaran Pancasila, mereka banyak yang merasa jenuh, bosan mengikutinya, sebab disampaikan dengan tidak menarik, tidak menggunakan teknologi digital. Tidak menjawab persoalan kebutuhan Generasi Z dan belum sepenuhnya menggunakan pendekatan yang aktif, kreatif, menyenangkan dan berbasis persoalan riil masyarakat.

Penting juga untuk dipahami, bahwa strategi penanaman nilai-nilai Pancasila tidak hanya melalui kurikulum, tetapi sebagai langkah strategis lainnya yaitu kebijakan-kebijakan negara yang dibuat harus sesuai dengan nilai Pancasila (institusionalisasi nilai-nilai Pancasila), kebijakan negara harus mendorong inklusi sosial dan ekonomi, dan tak kalah penting yaitu keteladanan dari para elit dan masyarakat umumnya.

“Itulah sesungguhnya yang dibutuhkan oleh generasi saat ini, agar nilai-nilai Pancasila bisa diaktualisasikan dalam perbuatan, bukan sekedar tumpukan perkataan, hafalan, dan perdebatan,” tandasnya.
(erw)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.