Banner sumsel

Jajakan Hewan Langka Dilindungi Lewat Medsos, Dedy Mizwar Kena Batunya

 

PALEMBANG, Koranindonesia.id – Ulah Dedy Mizwar (29) yang selama ini dengan leluasa memperdagangkan satwa langka dilindungi melalui media sosial (medsos) harus terhenti setelah dibekuk anggota Subdit II Dit Intelkam Polda Sumsel.

Warga Dusun II, Desa Tanjung Agas, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir ini dibekuk karena kedapatan menjual dua ekor kucing hutan (Felis Bengalensis) kepada petugas yang menyamar sebagai pembeli.

Pelaku dibekuk saat bertemu dengan aparat di Loket Bus Limbersa, Jalan Parameswara, Kecamatan IB I Palembang, pada Kamis (15/8) malam. Setelah sebelumnya antara pelaku dan petugas yang menyamar bernegosiasi melalui pesan Facebook.

Kasubdit II Dit Intelkam Polda Sumsel AKBP Drs BR Sagala MH mengatakan penangkapan dilakukan setelah anggota mendapat informasi bahwa pelaku kerap memperdagangkan satwa langka dilindungi melalui media sosial.

Kemudian anggota mulai menelusuri dengan berkirim pesan dengan pelaku melalui Facebook, hingga akhirnya antara pelaku dengan petugas yang menyamar menemukan kesepakatan harga.

“Melalui akun Facebook pelaku itulah anggota melakukan direct message (DM) memesan dua ekor kucing hutan seharga Rp500 ribu per ekor dan disepakati bertemu di Loket Limbersa Jalan Parameswara,” ujar AKBP Sagala, Jumat (16/8/2019) kemarin.

Setelah anggota memastikan bahwa pelaku membawa kucing hutan dan dianggap melanggar Undang-undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, petugas langsung mengamankan pelaku.

Guna penyelidikan lebih lanjut, Sagala melanjutkan, pelaku dan barang bukti diserahkan ke Ditreskrimsus Polda Sumsel.

 

Sementara itu tersangka Dedy mengaku bahwa dirinya sudah setahun terakhir menjalani bisnis jual beli satwa langka tersebut. Selain kucing hutan ia juga menjual belikan musang pandan, berang-berang dan offset kepala rusa.

 

“Jual belinya lewat grup Facebook dan whatsapp. Hewan itu saya beli dari orang hasil tangkapan di hutan dan kebun tempat mereka tinggal dengan kisaran harga Rp150.000 sampai Rp500.000,” ujarnya.

 

Dedy memilih menjalani bisnis ilegal tersebut karena tergiur keuntungan cukup tinggi, terlebih selama ini ia masih merasa aman karena tak pernah tersentuhan masalah hukum ataupun pemerintah. (sup)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.