Banner sumsel

Jadi Buruh Karet, Otak Pelaku Perampokan dan Pembunuhan Sopir Taksi Online Diringkus

PALEMBANG, koranindonesia.id – Jajaran Unit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel berhasil membongkar kasus pembunuhan disertai perampokan yang menimpa seorang taksi online, Sofyan pada bulan Oktober 2018 lalu. Suhaili alias Akbar alias Atok (37) terpaksa dilumpuhkan dengan butiran timah panas petugas, karena mencoba melarikan diri saat hendak pengembangan, Rabu (21/8/2019).

 

“Tersangka ini ditangkap di tempat persembunyiannya, di kebun karet Dusun Muara Dua Kisam, Kabupaten OKU Selatan pada Rabu (21/8). Tersangka selama ini bersembunyi dan memilih menyadap karet di kebun milik warga di Dusun Muara Dua Kisam untuk menafkahi hidupnya selama pelarian. Kini kami masih terus memeriksa tersangka, untuk pengembangan lebih lanjut,” papar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel, Kombes Pol Yustan Alpiani didampingi Kasubdit III AKBP Yudhi Suhariyadi kepada para wartawan.

 

Dalam aksi jahatnya ini, tersangka tidak melakukannya sendiri, melainkan dibantu kedua teman-temannya yang lebih dulu tertangkap.

 

“Mereka ini berempat, termasuk tersangka, nah ketiga tersangka lain yaitu Ridwan alias Ridho, Acun dan Fran sudah terlebih dahulu ditangkap dan kini masih menjalani hukuman. Tersangka ini otak pelakunya,” jelasnya.

 

Kejadian naas menimpa korban ini berawal saat para tersangka menyamar sebagai penumpang. Saat hendak mengantarkan ketujuan, para tersangka ini ternyata telah menyusun siasat untuk merampok korban. Mereka memerankan peranannya masing-masing.

 

“Korban kami cekik, lalu Ridwan alias Rido, Acun dan Fran menariknya ke bangku belakang. Setelah meninggal dunia, korban kami buang ke kebun sawit Muratara. Sementara, mobil dikemudikan Akbar menuju Sarolangun, Jambi untuk dijual. Dari hasil penjualan mobil itu, saya dapat bagian Rp 5,3 juta. Mobilnya itu terjual Rp 23 juta oleh seseorang yang tidak saya kenal di Singkut, Sarolangun Jambi,” ungkap tersangka.

 

Disinggung keadaan rekannya yang telah tertangkap dan menjalani hukuman, tersangka pasrah jika mendapat hukuman yang sama.

 

“Saya tidak tahu kalau mereka dituntut hukuman mati, saya hanya bisa pasrah. Memang saya mengakui, saya bersembunyi di kebun karet untuk menghindari polisi,” ujarnya.(fhy)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.