Banner Pemprov 2020
Banner 23 September

Ini Pembalap Indonesia Minim Dukungan ke MotoGP 2020

JAKARTA, koranindonesia.id – Dimas Ekky Pratama merupakan wakil Indonesia di ajang Grand Prix Moto2 2019. Kepada CNNIndonesia.com, Dimas Ekky berbicara prediksi MotoGP 2020 dan minim dukungan untuk pembalap Indonesia ke ajang Grand Prix.

Dimas yakin Indonesia berpotensi memiliki wakil di balapan motor level dunia ke depan. Namun, hal itu hanya akan terwujud jika ada dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat.

Ini situasi yang bagus buat semua rider. Semenjak Marc Marquez absen, semua jadi punya kesempatan tampil dan lebih pede dengan performanya. MotoGP musim ini jadi lebih seru karena tidak bisa ditebak siapa yang bakal finis di akhir musim.

KTM sekarang saya lihat sudah mulai konsisten. Tidak cuma pebalapnya tapi juga pabrikannya, kata ekky dikutip dari cnn.

Yang pasti sih untuk gelar juara dunia tahun ini sulit diprediksi. Karena kalau kemarin saya lihat hasil di Misano yang punya potensi motor dengan paket yang paling komplet untuk long race itu Suzuki, sambungnya.

Tapi tapi untuk di awal-awal mungkin Suzuki agak keteter karena kalau kita lihat Joan Mir start di posisi 11 dia bisa finis di posisi kedua. Mungkin itu juga pengaruh dari pemilihan ban. Pol Espargaro ban belakang pakai soft, tapi kalau lihat timing lap by lap Joan Mir bisa lebih kencang dari catatan waktu Maverick Vinales.

Jadi saya pikir yang punya paket long race distance itu Suzuki. Tapi kita tidak tahu next race di Sirkuit Catalunya mungkin nanti ada motor Yamaha atau Ducati yang lebih kompetitif di situ. Kita akan lihat di FP1 atau 2. Tapi kalau lihat paket tahun ini Joan Mir dengan Suzuki paling kompetitif.

Buat pembalap paling penting itu di FP1, FP2 dan FP3. Kenapa? Di situ pebalap bisa punya waktu buat repackage long race karena free practice itu 45 menit untuk MotoGP, di situ bisa cari apa yang kurang di simulasi. Biasanya di F2 karena sore, kemiripan suhu pengaruh [dengan balapan]. Kalau di FP1 pemilihan ban.

Kalau dari tim Moto2 tahun lalu, pengalaman saya dapat dari Dunlop kira-kira misalnya di Sirkuit Montmelo, Catalunya-Barcelona, komponennya ada hard dan soft, kita tinggal coba dari dua pilihan itu. Tapi di MotoGP lebih kompleks, jadi mereka lebih banyak memilih juga dan ada pengalaman tahun lalu pakai ban apa di sirkuit yang sama untuk bisa jadi acuan mereka buat setelan dan pemilihan ban.

Mungkin seperti tahun kemarin, ada tambahan di Moto2 untuk coba ban baru di seri yang terakhir. Jadi bannya lebih bagus di beberapa lap awal, tapi di tengah ke finish lebih cepat habis kalau pemakaian kita agresif. Mungkin di MotoGP pun ada yang seperti itu.

Pasti sangat rumit karena kenapa? Balapan itu bukan race one lap, tapi long distance race, apalagi MotoGP rata-rata sekitar 20-28 lap per balapan tergantung sirkuit.

Dukungan sih yang kesulitannya di Moto2. Lalu beberapa trek baru, jadi kompleks sebenernya. Tapi intinya dukungan yang kurang di sini, dari tim dari pemerintah.

(MT) 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.