Muba ramadhan
Banner pemprov Sumsel Vaksin

Ini Indikasinya, Program PEN 2020 Gagal Atasi Pandemi Covid-19

JAKARTA, koranindonesia.id – Anggota Komisi XI sekaligus Sekretaris Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Marwan Cik Asan mengatakan, Program PEN (Pemulihqn Ekonomi Nasional) 2020 telah gagal mengatasi pandemi Covid-19 yang makin parah.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu juga menegaskan soal kegagalan PEN tersebut dalam memulihkan ekonomi bangsa. Hal ini tergambar dari defisit APBN yang hampir mencapai Rp.1.000 Triliun.

Marwan mengatakan, pada awal tahun 2021 pemerintah telah mengumumkan bahwa defisit APBN 2020 sebesar Rp.956 triliun atau setara 6,09 persen dari PDB. Angka defisit tersebut adalah yang terbesar dalam 20 tahun terakhir pelaksanaan APBN.

“Melonjaknya defisit APBN 2020 merupakan respon pemerintah melalui kebijakan fiskalnya untuk mengatasi pandemi Covid 19 dan dampaknya terhadap perekonomian. Pemerintah melebarkan defisit APBN dari 1,76 persen atau Rp. 307,2 triliun menjadi 6,34 persen terhadap PDB atau sekitar Rp 1.039 triliun,” kata Marwan kepada wartawan, Kamis (28/1/2021).

 

Marwan menambahkan, awalnya program PEN hanya dialokasikan sebesar Rp 405,1 triliun, namun dalam perkembangannya pemerintah memperluas program hingga mencapai Rp 695,2 triliun. Akibatnya postur APBN harus dilakukan 2 kali perubahan melalui Peraturan Presiden.

“Yang menjadi perhatian adalah sejauh mana efektivitas program PEN dalam memulihkan ekonomi ditengah pandemi Covid 19 yang tingkat penyabarannya semakin tinggi,” ucapnya.

Menurut Marwan, semestinya program utama pemerintah adalah pada sektor kesehatan dengan fokus menurunkan tingkat penularan covid 19, baru selanjutnya secara bertahap melakukan pemulihan ekonomi.

Program PEN 2020 yang dilaksanakan dalam 6 klaster, realiasainya hanya mencapai Rp579,78 triliun atau 83,4% dari pagu. Dengan realisasi anggaran yang kurang maksimal dan beberapa program yang tidak tepat sasaran, maka program PEN 2020 tidak memiliki dampak yang besar terhadap penanganan covid 19 dan pemulihan ekonomi 2020, hal ini terlihat dari jumlah orang yang positif corona terus bertambah hingga mencapai satu juta orang, begitupula dari sisi pemulihan ekonomi tidak memberikan bantalan yang kuat untuk menjaga daya beli dan konsumsi masyarakat.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.