Indonesia Harus Cegah Membanjirnya TKA Asal China

JAKARTA, koranindonesia.id – Virus Corona Wuhan menurut para ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sangat cepat bisa mereproduksi jadi 2,5 kali lipat.

Tiap individu yang terinfeksi rerata menginfeksi sebanyak 2,5 kali lebih banyak orang. Pada 3 Januari, 44 kasus; 2 pekan melonjak jadi 198 kasus; 21 Januari 444 pasien terinfeksi virus. Pada 23 Januari, 644 kasus. Pada hari berikutnya sudah 830 kasus. Virus ini telah berpotensi menjadi Global Pandemic.

Virus Corona Wuhan Wuhan telah membuat lebih dari 1.300 orang sakit terkena kasus, Hingga Sabtu pagi, setidaknya 41 orang telah tewas, semuanya di Tiongkok. Begitupun terdapat 3 di Perancis, 2 di Australia, 2 di Amerika Serikat, 1 Kanada, dan yang terdekat sudah masuk ke kawasan Asia Tenggara, yakni 3 di Singapura. Semuanya juga memiliki keterkaitan dengan warga asal Tiongkok.

Menanggapi virus tersebut, Pengamat Politik Internasional, Arya Sandhiyudha, mengatakan bahwa Indonesia harus sangat waspada. Pemerintah Tiongkok saja mengisolasi provinsi terdampak. Kita (Indonesia) musti lebih protektif demi warga negara kita.

“Indonesia tidak boleh merasa aman dengan pernyataan sementara bahwa tidak ada yang terdampak. Sebab, Laboratorium Northeastern University melakukan analisa bahwa kemungkinan jumlah faktual yang belum terdeteksi bisa 10 kali lipat lebih besar,” kata Arya melalui pesan singkat, Minggu, (26/1/2020).

Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) ini menyebutkan ada tiga sektor kebijakan yang perlu segera diterapkan.

Pertama, pada sektor kesehatan dan masyarakat, siap siaga Corona Wuhan harus segera diumumkan. Seperti himbauan secara resmi bagaimana prosedur pertama jika ada pasien suspect positif.

Kedua, pada sektor perhubungan dan imigrasi, lalu lintas penerbangan dari Tiongkok ke bandara bandara Indonesia tiap hari ratusan pesawat.

Ketiga, sektor industri, minerba, dan ESDM. ada sekitar 40-50 perusahaan Tiongkok di Indonesia dengan ratusan ribu warga negara Tiongkok di wilayah ini Pengawasan Orang Asing (POA) musti diperketat. Begitupun terhadap potensi banyak sekali Tenaga Kerja Asing asal Tiongkok yang akan masuk.

“Pemerintah Tiongkok saja langsung mengisolasi provinsi Hubei dan sekitarnya. Pemerintah Kita juga musti jauh lebih protektif terhadap warga negara Indonesia. Jalur masuk dari Tiongkok atau arus masuk warga negara asal Tiongkok harus diantisipasi dan sangat dibatasi.” Sambung Arya.

Doktor Hubungan Internasional dari kampus Turki ini juga mengatakan.

“Kerjasama dengan Tiongkok melalui the Belt and Road Initiative melalui perdagangan dan infrastruktur tentu tetap berjalan, tapi darurat ini memperlihatkan sebuah penyakit lokal yang telah menjadi ancaman global. Ini the Belt and Road Pandemic namanya. Musti antisipasi dan cegah tangkal dampaknya ke Indonesia,” tandasnya.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.