Banner sumsel

I Ketut Guna Artha: Nyepi Tanpa Internet Bukan Sikap Intoleran

BALI, Koranindonesia.id – Wacana PHDI Bali meminta kepada Kementerian Informasi dan Komunikasi supaya dalam pelaksanaan Nyepi layanan internet untuk Bali dihentikan selama pelaksanaan Catur Brata penyepian berlangsung telah membuka perdebatan, setidaknnya di media sosial. 

Menurut mantan Sekretaris Jenderal DPN Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah), I Ketut Guna Artha apa yang diusulkan PHDI Bali itu masih dalam katagori wajar sebagai sebuah diskursus. 

“Saya menilai ini sebuah tindakan progresif ditengah atmosfer perang melawan hoax dan ujaran kebencian. Kita kan lihat dalam setahun terakhir ini propaganda agama sering dijadikan alat menyulut kebencian yang cenderung menjadi konflik horisontal apalagi ditengah situasi bangsa menghadapi pilkada, saya pikir usulan PHDI ini menjadi menarik untuk dikaji,” kata I Ketut Guna Artha.

I Ketut Guna Artha yang sangat konsen dengan isu-isu kebangsaan yang biasa hidup dalam lingkungan plural menyadari betul bahwa ancaman masa depan Indonesia adalah nasionalisme oleh sebab kemajuan teknologi informasi sebagai proxy war. Maka kemudian pada tahun 2011 membentuk ormas Barisan Penegak Trisakti Bela Bangsa (Banteng Indonesia).

“Perang siber itu nyata karena memang ada kolompok-kelompok masyarakat yang tidak menginginkan kemajuan bangsa dengan menciptakan gangguan stabilitas keamanan melalui konflik SARA. Polisi telah mengidikasikan bahwa kelompok-kelompok ini terorganisir, melek IT, terdidik dan terlatih memproduksi materi konflik. maka untuk ketenangan masyarakat Bali melaksanakan brata penyepian, tidak salah kalau Nyepi tanpa internet dengan alasan preventif meminimalisasi potensi konflik,” ujar I Ketut Guna Artha.

Dikatakannya Nyepi telah berlangsung ribuan tahun. Sudah barang tentu tantangannya berbeda. Pelaksanaan Catur Brata Penyepian tahun ini dimulai 17 Maret 2018 pukul 06.00 waktu setempat hingga 18 Maret 2018 pukul 06.00 WITA.

“Ketika orang asing sengaja berlibur ke Bali menghargai tradisi masyarakat Hindu di Bali dengan diberlakukannya penutupan bandara dan pelabuhan selama 24 jam, mengapa kita tidak menghargai kearifan lokal itu untuk pelaksanaan brata penyepian yang lebih khusuk? Bukankah orang Baduy dalam menjaga tradisi kearifan lokalnya di wilayah Baduy Dalam tanpa HP/Internet dan listrik setiap hari? Dan yang diusulkan tokoh agama di Bali hanya diberlakukan untuk di Bali dan sehari saja, bukan? Menurut saya Nyepi tanpa internet bukan sikap intoleran. Janganlah kita diperbudak internet untuk bermedia sosial, bursa efek saja ada liburnya kok,” pungkas I Ketut Guna Artha. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.