Banner sumsel

Hidupkan Komisi Penyiaran Indonesia

OLEH: Indah Sari, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Fisip Unsri Kampus Palembang

Saat ini semua orang memerlukan informasi, setiap media tentunya memiliki jumlah audiencenya sendiri. Hingga saat ini media cetak tetap eksis di era digital.

Hal itu dikarenakan sumber informasi yang disampaikan melalui media cetak dapat bersifat akurat meskipun pemilik dari media tersebut juga memiliki kepentingan dalam politik.

Selain media cetak, televisi datang sebagai wujud pembaruan. Pembaruan tersebut adalah audiovisual. Televisi pertama di Indonesia adalah TVRI sebagai corong pemerintah kepada masyarakat yang tujuaanya untuk menyampaikan informasi mengenai pemerintahan ke publik.

Konten TVRI sejak didirikan hingga saat ini maih menggunaka prosedur yang baik.  TVRI saat akan membuat program tv akan melakukan riset pasar, karena mengikuti kiblat penyiaran yaitu Inggris.

Alasannya penyiaran di Inggris lebih mementingkan keahlian jurnalistik dan menjadi nomor 2 mengenai fisiknya. Celalakanya di Indonesia media meniru Amerika, yang lebih mementingkan fisik dibandingkan keahlian serta hanya untuk semata mencari laba.

Audience dipaksa untuk mengikuti informasi yang telah di framing media. Hingga pada akhirnya RCTI hadir sebgai televise swasta. Dan setelah RCTI meluncur lagi beberapa tv nasional hingga saat ini berjumla 16 stasiun tv.

Untuk mencerdaskan bangsa sesuai dengan pembukaan UUD 1945 salah satunya dengan penyajian informasi berdasarkan kode etik jurnalis. Kepemilikan media saat ini merupakan salah satu factor yang akan mempengaruhi segala aspek.

Seharusnya pemilik media itu tidak dianjurkan untuk yang memliki kepentingan. Sebab akan mempengaruhi konten program tv tersebut, keetidaknetralan seakan menjadi hal yang biasa. Hal ini terbukti pada pemilihan calon presiden 2014.Terjadinya perbedaan suara distasiun tv.

Peran KPI

Berdasarkan amanat UU No 2 Tahun 2002 lahir sebuah lembaga Komisi Penyiaran Indonesia(KPI).

Fungsinya ada tiga, yaitu kelembagaan, struktur penyiaran dan pengawasan isi siaran. Kelembagaan menangani persoalan hubungan antara kelembagaan KPI, koordinasi KPID serta pengembangan kelembagaan KPI.

Struktur penyiaran bertugas menangani perizinan, industri dan bisnis penyiaran, sedangkan  pengawasan isi siaran menangani pemantauan isi siaran, pengaduan masyarakat, advokasi dan literasi media.

Saat ini televisi di Indonesia rating tertinggi adalah program hiburan dan sinetron. Kedua program itu akan menjadi nilai jual yang tinggi bagi pemilik stasiun. Nilai apa yang dapat dipetik dari program tersebut.

Menurut teori komunikasi yaitu teori kultivasi seseorang yang terus menonton selama 2 jam atau lebih maka dia akan terpengaruh dan akan menganggap dunia seperti dunia tv. Misalnya sinetron Anak Langit, yang memvisualkan bahwa pria itu tampan jika memiliki motor balap .

Mirisnya tayangan tersebut disajikan saat prime time sehingga semua kalangan dapat menikmatinya, terutama anak-anak dan remaja. Dampaknya pemikiran anak di dunia nyata pun akan sama bahwa pria yang tampan itu memiliki motor balap.

Jika persepsi anak sudah mampu dikuasai media bagaimana kondisi Indonesia untuk 50 tahun ke depan, semakin baik atau sebaliknya. Apa semua orang tua mengawasi anaknya dalam memilih program apa yang layak dan tidak. Siapa orang yang mampu menanggani masalah ini ?  jawabannya KPI.

Solusi

Harus adanya revisi Undang-Undang mengenai wewenang KPI. KPI harus bisa berjalan independen seperti halnya KPK. KPI harus dapat menghentikan sebuah program acara, jika melanggar kode etik dan tujuan acara.

Apabila peraturan itu diterbitkan DPR maka masa depan Indonesia akan mengalami peningkatan yang drastic. Karena media yang dikonsumsi masyarakat 75% bersifat kritis.

Jika KPI hanya mampu menegur saja dan tidak dapat menghentikan program stasiuntv, lebih baik bubarkan saja. Menegur tanpa tindakan akan sia-sia. Langkah selanjutnya audience harus pandai dan tidak ikut terbawa emosi mengenai informasi di media.

Proses filterisasi pada suatu berita wajib  dilakukan masyrakat. Ketiga, jangan hanya nyaman di zona media itu cobalah sesekali untuk melihat berita tersebut dari sisi positifnya. Media umumnya menjual nilai berita dari sisi negatifnya alasan juga karena kebutuhan pasar. Keempat, jadilah khalayak yang cerdas.

Dengan tidak sehatnya penyiaran televisi di Indonesia, karena khalayak hanya ingin mencari kejelekkan atau nilai negative saja. Hal itu dinilai lebih layak untuk diperbincangkan.

Bagaimana dengan hak khalayak untuk mendapatkan nilai informative secara independen sedangkan para pemilik media adalah orang berkepentingan. Peran nilai edukasi bagi anak-anak pun hanya sedikit.

Apabila anak-anak terus mengkonsumsi sinetron maka dunianya akan memiliki konsep yang sama seperti sinetron tersebut. Akibatnya, akan sulit bagi mereka untuk membedakan realitas didunia sinetron dan didunia nyata.

Kelima, sudahkah jurnalis menggunakan KEJ (Kode Etik Jurnalis) dalam setiap menyajikan berita khalayak. Sebab 11 KEJ itu hukumnya wajib sebagai jurnalis. Karena hal ini bersangkutan secara langsung dengan khalayak.

Kesalahan sekecil apapun jika dikonsumsi orang banyak akan menimbulkan dampak yang buruk. Khalayak butuh nilai informasi yang sesungguhnya bukan berdasarkan opini ataupun lainnya. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.